Passion Tidak Menentukan Keberhasilan dalam Bekerja

No comments

Februari 2018.

Sampai di hari pendaftaran ulang kerja pun aku masih tidak tahu apakah keputusanku ini sudah tepat atau tidak. Jujur aku sangat ragu, tapi juga penasaran.

K e r j a.

Sebuah fase kehidupan yang dilalui orang pada umumnya. Semua orang disekililingku rasanya sudah bersiap menanti fase ini setelah susah payah belajar selama 4 tahun di bangku kuliah. Tapi aku tidak. Aku tidak pernah ingin siap karena aku tau ini artinya aku harus menjadi dewasa.

Milih universitas kuliah ikut-ikutan. Milih kerja juga ikut-ikutan. Ikut-ikutan tapi bukan sembarang asal ikut-ikutan. Ikut-ikutan hanya pada jalan yang baik.

Sebenarnya banyak orang begitu juga kan? Ikut-ikutan karena melihat ada sesuatu/peluang yang menarik disana.

Pernah beberapa orang mengatakan padaku bahwa aku memiliki jalan pikiran yang sedikit berbeda dari orang pada umumnya di sekelilingku.

Di suatu obrolan yang lampau, ketika saling bertanya kenapa kamu memilih A atau kenapa tidak B? Hampir semua mengatakan alasan luar biasa seperti passionlah, minatlah, cita-citalah, targetlah, dan hal-hal bijak yang membuat si pendengar berkata dalam hati ‘wah keren dia’.

Di masa itu, aku merasa ruang untuk mengatakan yang alasan yang jujur merupakan pilihan yang memalukan. Perasaan malu yang muncul karena terlalu banyak dikelilingi dan dipengaruhi orang-orang hebat akademisnya. Lebih baik cari aman pakai alasan ikut-ikutan.

Pertimbanganku memilih sesuatu kebanyakan disebabkan oleh karena aku lebih tidak menyukai sesuatu A dibandingkan sesuatu B. Bukan berarti aku memilih itu karena aku memang menyukainya.

Memilih sesuatu berdasarkan perbandingan mana yang negatifnya lebih kecil. Bukan melihat darimana yang lebih banyak positifnya. Itu dua cara/perspektif yang berbeda.

Karena sifat ini pula aku selalu ragu bagaimana cara menjawab pertanyaan mengenai passion/kesukaan/ bakat yang tepat. Seperti pertanyaan:

Apa hobby mu?
Apakah kamu menyukai jurusan yang kamu ambil?
Apakah kamu menyukai pekerjaanmu yang sekarang?
Apa yang kamu sukai dari bidang kerja kamu sekarang?

Tidak banyak hal yang benar-benar aku sukai. Biasa saja. Karena itu pulalah mengapa aku terlihat kurang ekspresif pada banyak hal.

Menulis pun kalau ditanya, aku tidak berani berkata bahwa ini adalah passionku. Sebenarnya aku tidak pernah selancar air mengalir mengutarakan apa yang ada di pikiran menjadi tulisan. Masa-masa edit ketik hapus berulang kali ratuan sali dilakukan yang kadang buat aku berpikir ‘kenapa masih mau dilakukan juga sih ka kalau ini sulit’?

Awal-awal aku merasa menjadi orang aneh karena memiliki sifat ini. Tapi seiring bertambahnya usia, aku belajar untuk menerima dan memahami karakter sendiri.

Dan aku sampailah pada suatu kesimpulan bahwa sifat ini lazim, tidak semua orang sama dan bisa disamakan bukan? Berbeda bukan berarti anerh. Yang aneh itu adalah ketika tidak menjadi diri sendiri dan berusaha menjadi sama dengan orang lain.

Ekspresi biasa saja bukan berarti tidak bersyukur. Aku sangat bersyukur atas apa yang Allah pilihkan untukku. Segala sesuatu yang aku pilih dan dampaknya apakah itu baik atau buruk, aku kembalikan lagi ke yang Maha Kuasa.

Untuk bisa sampai pada fase bersyukur dan menerima segala kondisi itu ku akui perlu perjalanan yang panjang. Cara yang aku yakini adalah melalui belajar agama yang benar; Benar tempatnya, benar gurunya. Belajar agama islam yang sesuai syariat dan sunnah nabi membuatku bisa berfikir semakin logis.

Intinya apa yang mau aku sampaikan adalah hidup tanpa passion bukanlah akhir prestasi, bukan alasan untuk tidak bisa meraih prestasi/kesuksesan.

Kata-kata nasehat seperti: ‘pilihlah/jalani/lakukan/bekerja lah di sesuatu yang menjadi passionmu maka kamu akan sukses/bahagia’, aku sendiri tidak mau mempercayai kata-kata nasehat seperti ini. Nasehat seperti ini menurutku bisa menjebak seseorang menjadi tidak bahagia atas pilihannya.

Passion itu penting, tapi tidak cukup. Menurutku yang menentukan prestasi dan keberhasilan adalah tindakan kita dalam hal spritual dan lahiriah. Hal spritual seperti libatkan Allah dalam setiap pilihan dan jadikan Allah tujuan mu. Hal lahiriah seperti untuk mau berkembang, belajar, bertanggungjawab terhadap apa yang kamu lakukan, dan yang terpenting kamu tau untuk tujuan apa kamu melakukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s