D-11: Satu-satunya barang yang dikoleksi di rumah

No comments

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar barang koleksi?

Sesuatu yang mahal?
Sesuatu yang unik?
Sesuatu yang antik?

*Sepersekian menit kemudian sadar kalau dirumah gak punya barang koleksi seperti*

Menurut saya barang koleksi tidak harus sesuatu yang seperti itu. Kalau ditelisik lagi, barang koleksi bisa juga diartikan barang yang kita kumpulkan karena dianggap bernilai lebih. Nilai tidak hanya diukur dari materinya tapi juga isinya.

Ini satu-satunya benda yang terlintas di benak saya ketika mendengar kata barang koleksi. Beberapa punya saya dan saudara, tapi sebagian besar punya orangtua. Ini dia benda sederhana yang kita semua miliki:

Buku

Apalagi yang lebih bernilai tinggi dibanding ilmu. Dan buku adalah salah satu sumber ilmu yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ya, hari ini saya mau bercerita tentang kisah buku di rumah.

Ada dua lemari kaca besar di rumah untuk menyimpan buku-buku semua penghuni rumah.

Satu lemari berisi buku-buku sekolah kami dari sekolah dasar sampai SMA. Terakhir tahun lalu saya lihat masih begitu, gak tau kalau sekarang buku sekolahnya nya masih disimpan atau tidak.

Cepatnya berganti kurikulum menyebabkan buku sekolah juga cepat berganti. Pas saya dulu dapatnya kurikulum KBK dan KTSP, pas adik saya udah ganti jadi kurikulum 2013. Bukunya pun beda jauh, buku sekolah saya dulu penuh dengan latihan soal, buku adik saya semua mata pelajaran digabung jadi satu buku.

Semua buku-buku sekolah dari zaman anak pertama dan terakhir masih disimpan rapi di lemari kaca itu. Mau disumbangin ke anak sekolahan sekarang gak kepakai juga, tapi kalau dibuang sayang. Ah dilema.

Kalau ada yang tau tempat menyumbangkan buku di pekanbaru atau saran bukunya diapain (selain dijual ke tukang loak), please kabari ya.

Nah lanjut ke lemari kaca kedua.

Lemari kaca kedua ini berisi buku-buku agama koleksi orang tua.  Dari buku yang setipis buku saku hingga bukut tebal dengan banyak seri-seri seperti kitab bulughul maram. Sudah seperti punya perpustakaan mini saja di rumah.

Saya tidak tau banyak kisah-kisah hadirnya buku ini karena waktu itu saya sudah berkuliah di bandung. Tau-tau pas pulang libur semesteran udah banyak aja buku agama dan setiap saya pulang libur semester buku-buku di lemari kaca ini semakin banyak.

Niat itu ada, pengen coba baca buku-buku agama agar pengetahuan beragama ga sebatas ‘katanya orang dulu’ atau ‘biasanya begini’,  walau judul dan isi bacaan nya terlihat berat. Tapi gengsi dan malas masih gede. Ya mungkin saja suatu hari kesempatan itu ada.

 ***

Makasih udah baca sampai sini, ternyata ga mudah konsisten buat nulis dan mikirin konten. Hiks. Jangan lupa like, comment, dan subscribe untuk dapatkan notifikasi postingan terbaru dari blog ini!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s