D-5: Etika Bermedia Sosial dalam UU ITE, Sudah Tahu Belum?

No comments

Tadi pagi saya nonton berita bahwa Bapak Ahmad Dhani dituntut 2 tahun penjara atas kasus ujaran kebencian dalam vlognya yang diunggah ke Instagram.

Beberapa hari yang lalu, saya baca berita di instagramnya tirto.id, ada seorang guru korban pelecehan seksual tapi malah dipenjara karena dituduh menyebarkan rekaman bukti pelecehan kepala sekolahnya.

Dan ada banyak kasus serupa lainnya yang tentu pernah kita dengar dan segudang lainnya yang tidak terblow up di media.

Pada kasus guru tersebut, gara-gara media sosial, ketidakadilan dalam penjatuhan hukuman kepada ibuk tersebut jadi ter-blow up dan kini mendapat perhatian besar dari masyarakat Indonesia. Banyak dukungan untuk meninjau ulang kasus tersebut dan mempertanyaan kredibelitas dari pengadilan dan institusi yang melindungi pelaku pelecahan seksual.

Saya sebagai pengamat mengutuk keras ketidakadilan, pelaku, dan setiap orang yang membantu dalam tindakan ketidakadilan. Disisi lain, pembuat dan penegak hukum juga manusia biasa yang mudah khilaf dan salah.

Sebagai umat muslim, saya meyakini hukum yang dibuat manusia dan pelaksanaannya bagaimanapun tidak akan pernah bisa seadil hukum yang dibuat Allah.

Jadi saya mengajak netizen semua untuk tidak membuat kericuhan, memelintir berita, atau pun kegiatan lain yang kiranya tidak mendatangkan manfaat. Yang paling penting dan utama, lebih baik kita doakan korban kejahatan apapun itu mendapatkan keadilannya dan juga para penegak hukum kita dimudahkan Allah untuk mendapatkan kebenaran dan bisa memutuskan seadil-adilnya.

Oke sekian pernyataan sikap dari saya terhadap pelanggaran kasus ITE yang terjadi akhir-akhir ini. *drop mic*

Dah ya intronya, berat juga ternyata buat komentar beginian.

Kembali ke masalah etika. Kalau dulu ada istilah mulutmu harimaumu, kalau sekarang ada istilah jempolmu harimaumu.

Alhamdulillah aalam lingkungan perteman sosmed saya masih baik-baik saja. Tidak ada yang aneh-aneh seperti menyebarkan ujaran kebencian, menyinggung ras, body shaming, ataupun menyebarkan hoax. Karena itu saya kira sosmed ini baik-baik saja.

Tapi sejak saya follow akun-akun tokoh terkenal, ada artis juga, akun dakwah juga, lalu sering juga baca-baca komentarnya netizen, ternyata netizen Indonesia ini kreatif dan lucu. Tapi mirisnya juga banyak yang gak segan-segan berkomentar jahat. Gemes banget sama orang yang meninggalkan jejak komentar-komentar ga bertanggung jawab seperti ini.

Netizen jahat seperti ini gak kenal lagi sama yang namanya usia. Ada yang udah jadi bapak-bapak orang, ibuk-ibuk orang alias punya anak, muda-mudi labil dan yang lebih menyedihkannya banyak juga anak yang dibawah umur.

Membaca komentar ini saya cuma bisa geleng-geleng. Padahal rumusnya sederhana. Kalau suka/setuju ya ikuti terus akunnya. Gak suka/gak setuju dengan sesuatu ya tinggalkan. Gampang.

Kadang semakin kesini semakin banyak manusia yang lucu. Kemudahan informasi membuat manusia semakin pintar. Tapi hati-hati kepintaran ini bisa menjebak manusia menjadi manusia golongan ke 4 yang disebutkan oleh Imam Al Ghazali, yaitu  seseorang yang ia tidak tahu (tidak berilmu) dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.

Gegara sembarangan menggunakan media sosial terkena kasus hukum? asli gak ada keren-kerennya sama sekali. Yang ada harusnya malu luar biasa.

Kembali ke judul, ada informasi penting nih buat netizen-netizen Indonesia yang harus kudu banget diketahui yaitu Indonesia udah dari kapan tahun punya UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dan dalam UU ITE ini mengatur etika bermedia sosial.

Sejak tahun 2008, Indonesia sudah punya UU ITE No. 11 Tahun 2008 dan pada tahun 2016 diperbarui lagi menjadi UU No.19 Tahun 2016. Didalamnya ada pasal yang mengatur etika bermedia sosial yaitu pasal 27 sampai pasal 30 (UU 11/2008) dan hukumannya pada pasal 45, 45A, 45B (UU 19/2016).

Dokumennya bisa diunduh disini dan disini.

Isi Pasal 27 dan Pasal 45

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan

  1. Muatan yang melanggar kesusilaan dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
  2. Muatan perjudian dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
  3. Muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)
  4. Muatan pemerasan dan/atau pengancaman dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)

Isi Pasal 28 dan 45A

Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan

  1. berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000. 000.000,00 (satu miliar rupiah).
  2. Informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 1. 000.0 000,00 (satu miliar rupiah).

Isi Pasal 29 dan Pasal 45B

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)

Isi Pasal 30 dan Pasal 46

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum :

  1. mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik orang lain dengan cara apapun dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)
  2. mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000,00 (tujuh ratus juta rupiah)
  3. mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah)

Fokus kembali ke pasal 30. Ternyata mengakses komputer atau telepon genggam milik orang lain juga merupakan suatu perbuatan melawan hukum gaes. Siapa nih pernah kayak gini? Jadi tetap harus seizin pemilik hp ya gaes.

Tentang Body Shaming

“kok gendutan ya. Tuh dagu yang mana kok banyak lipatannya“ atau “Ih, kok kurus kali. Kerempeng sih ndak ada dagingnya.”

Entah ini maksudnya cuma bercanda atau basa-basi atau suatu bentuk ‘perhatian’, ini semua adalah bentuk body shaming. Dan kini berhati-hatilah karena pelaku body shaming bisa dijerat hukum. Bahkan hukuman untuk seseorang yang menghina media sosial lebih berat lagi karena dapat diketahui langsung oleh jutaan orang.

Jika menghina atau mengejek di media sosial bisa masuk pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan. Sedangkan jika menghina atau mengejek secara langsung bisa dikenakan pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan ancaman 9 bulan kurungan.

Saya jadi teringat masa-masa SD. Masa dimana bocah-bocah nakal mengejek yang lemah, mengejek fisiknya, saling mengejek nama orang tua, dan puncaknya saat sudah kelas 5-6 mulai sering berbicara kotor. Gak bakalan berhenti mengejek sebelum korbannya mengamuk atau nangis atau ngejar-ngejar dia. Pokoknya bencana lah kalo sekelas sama anak-anak nakal seperti ini.

Kalau masih anak kecil banyak orang memaklumi ini dan menganggap itu hanya sebagai kenakalan biasa anak-anak, hanya bercanda. Tapi kalau kenakalan seperti ini terus dibiarkan dan tidak dididik baik sama orangtuanya dan dianya sendiri tidak mau belajar, jangan heran banyak orang dewasa tapi kelakuannya seperti kanak-anak.

Pun kalau niatnya mau menasehati, bukan di media sosial tempatnya. Dalam islam ada adabnya. Cukup empat mata saja dan bertutur kata yang baik. Jangan sampai membuat yang dinasehati dipermalukan di depan umum. Nasehati dengan ilmu, bukan nafsu.

***

Sumber bacaan

  1. https://www.brilio.net/serius/6-aturan-di-uu-ite-ini-perlu-kamu-tahu-agar-aman-saat-bermedsos-170707d.html#
  2. https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5bc6f3b16c7ec/etika-bermedia-sosial-yang-perlu-dipahami-agar-tak-terjerat-hukum
  3. https://nasional.tempo.co/read/1150461/polri-sebut-ada-2-jerat-hukum-jika-lakukan-body-shaming
  4. http://tabungwakaf.com/adab-menasehati-dalam-islam/
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s