Saya, perubahan, dan quarter life crisis

No comments

Saya sempat menjalani hidup dengan tidak semangat. Hari demi hari berlalu, menjalani rutinitas tanpa antusis. Dari curhat ke teman yang lulusan psikologi dan baca story dari salah seorang influencer di instagram, yang saya alami ini namanya quarter life crisis.

Apa itu quater life crisis (QLC)?

QLC itu ciri-cirinya adalah bingung menentukan langkah hidup, menjalani aktivitas tapi ga dinikmati karena merasa salah langkah, takut salah ambil keputusan, ngerasa ga bebas menjalani hidup yang dimau, banyak pilihan tapi bingung memilih.

Semua ciri-ciri tersebut saya alami. Saya sempat berpikir, hidup ini melelahkan. Setiap membuat keputusan, saya berpikir lama, sibuk mencari referensi berjam-jam, cari tau konsekuensinya, tapi tetap saja ketika dijalani, ada perasaan tidak puas dan kecewa. Ini baru awal, kedepannya akan ada banyak lagi keputusan serta konsekuensinya yang harus dijalani.

Bila umur umat nabi muhammad rata-rata 63 tahun, masih ada 40 tahun lagi jatah hidup (kalau Allah perkenankan). Saya… tidak mau menghabiskan sisa hidup tersebut dengan penyesalan dan selalu berandai-andai kalau saya memilih a, b, c, saya mungkin x, y, z. Saya ga mau seperti itu.

Kali ini, saya coba mengutarakan apa adanya yang ada dipikiran saya.

Saya menjalani kuliah layaknya mahasiswa lain. Belajar mandiri hidup sendiri. Kuliah, organisasi, nugas, begitu siklusnya. Kata-kata yang selalu terngiang, yang selalu disebutkan oleh senior-senior saya yaitu insan yang terbaik adalah insan yang dapat membawa manfaat untuk orang lain.

Ketika berorganisasi, saya amati mereka. Saya lihat pengorbanan waktu dan tenaga mereka untuk menjalankan amanat organisasi. Berorganisasi hingga tengah malam bahkan dini hari, padahal esoknya ada kelas pagi. Saya dengar kegiatan sosial mereka yang seabrek. Juga kehidupan sosial pertemanan mereka yang luas. Seperti katanya, masa-masa ini adalah yang terbaik untuk memperluas relasi.

Saya mencoba ikuti, tapi tak semulus itu. Energi saya tak sebesar mereka. Kehidupan seperti itu bukanlah saya. Memberikan ‘manfaat’ dengan cara seperti itu malah menjadi bukan diri saya sendiri. Saya tak berhasil. Saya ciut, tak menemukan jawaban atas pertanyaan manfaat apa yang bisa saya berikan.

Di lingkungan saya saat ini, saya merasa bukanlah siapa-siapa. Tak ada prestasi yang membanggakan, pun juga tidak ada melakukan sesuatu yang membuat orang berdecak kagum. Saya punya banyak keterbatasan. Akhirnya tak punya visi hidup dan tak berani untuk membuat visi hidup.

Mungkin, ini lah titik mula saya mengalami krisis.

Saya memang menjalani hidup baik-baik saja. Kuliah seperti semestinya. Lulus dan mendaftar kerja seperti semestinya. Ya seperti semestinya orang-orang lakukan. Bersyukur tak menyia-nyiakan kesempatan. Mungkin melalui inilah cara saya untuk bisa memberikan manfaat. Tapi tetap saja rasanya ada yang hilang. Berkata-kata dalam hati, apa iya ini yang saya inginkan?

Kalau kata teman saya, saya ini tidak bersyukur. Kalau kata saya sahabat, wajar punya mimpi besar lainnya. Kalau orang tua saya menyerahkan sepenuhnya kepada saya asal tidak melanggar syariat agama.

Tibalah disuatu titik, saya tersadar, pemikiran saya tentang manfaat apa yang saya bisa berikan untuk orang banyak ternyata terlalu sempit. Saya berpikir lagi.

Saya salah memandang. Bukan dengan menjadi tokoh yang dikagumi, bukan pula menjadi seseorang yang jasanya luar biasa. Bukan juga menjadi orang yang sukses dalam karirnya. Bukan pula menjadi ilmuan yang melahirkan penemuan-penemuan hebat. Bukan pula menjadi insan yang bercita-cita untuk membangun negeri. Saya tidak cocok dengan visi hidup seperti itu. Semua itu hanya ego saya semata. “Tidak perlu menjadi sama dengan orang lain, bukan?”, saya mendoktrin diri sendiri.

Ternyata menjadi diri sendiri lebih tak mudah. Nyatanya saya tidak tau saya ini orang yang seperti apa dan ingin menjadi dikenal seperti apa..

Di suatu masa, pandangan saya mulai berubah.

Saya suka  mengobservasi orang. Saya melihat kok makin banyak orang-orang yang hijrah. Makin banyak perempuan yang berpenampilan syar’i. Makin banyak orang-orang yang ‘menyatakan’ bahwa dia mengikuti kajian. Bahkan artis-artis pun berubah dan mau mempelajari lebih dalam agama.

Kajian sunnah yang pertama kali saya dengar ketika masih 15 tahun, kini bukanlah hal yang baru dan asing. Bukan hanya di satu atau dua kota seperti yang saya kira, tapi sudah masif di seluruh kota di Indonesia, apalagi di kota-kota besar. Entah kebetulan atau tidak, lokasi kost selalu berdekatan dengan masjid yang mengadakan kajian sunnah. Sumber ilmu agama itu ternyata sangat dekat, tinggal pilihannya dijemput atau tidak. Selama ini, saya sendiri yang selalu terkurung dengan pikiran sempit. Sedang diluar sana ada banyak orang yang gigih mencari ilmu agama.

Saya diingatkan kembali. Kala itu, bukan kajiannya yang keras, tapi hati saya yang terlalu keras untuk menerimanya.

Saya diingatkan kembali, sudah sejauh apa saya memahami agama saya sendiri?

Malu karena pernah merasa malu untuk belajar agama. Pernah malu melakukan sesuatu yang benar. Padahal ada banyak orang yang tidak malu melakukan hal yang dilarang Allah ataupun melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak tau apakah itu benar atau salah. Saya menempatkan perasaan malu tidak pada tempatnya.

Perjalanan ‘berubah menjadi muslim yang lebih baik’ atau yang dikenal orang-orang dengan hijrah, sampai saat ini tidaklah mulus. Sebenarnya pun masih belum cocok disebut hijrah, masih terseok-seok.

Saya diingatkan lagi  bahwa adalah keliru ketika tidak menjadikan Allah tujuan ketika merencanakan visi hidup. Hidup tidak akan pernah puas dan selalu ada yang kosong.

Walau berat, saya paksa diri untuk coba menata ulang lagi visi hidup. Saya evaluasi hal-hal yang dulu ingin saya capai. Daripada semua itu, ada hal yang lebih saya takuti, yaitu diabaikan Allah. Padahal telah banyak rezeki yang Allah berikan dan kejadian yang dialami, tapi seringkali lupa untuk mengambil hikmahnya. Kepuasan dunia yang ingin cita-citakan tersebut sifatnya sementara, sedangkan kematian dan akhirat itu sudah pasti kekal.

Saya ingin sudahi krisis ini.

Memilih ikuti apa kata Allah. Menjadikan, doa yang umumnya yang sering kita panjatkan, yaitu mendapat kebaikan di dunia dan di akhirat serta dilindungi dari siksa neraka, sebagai visi hidup.

Melaksanakan misi-misi hidup yang dapat mendukung visi tersebut. Salah satunya misi dalam jangka waktu dekat ini yaitu istiqamah belajar agama, ikhlas dan berani untuk mengamalkan syariat islam. Bukankah ini juga salah satu bentuk kemanfaatan? Dari yang saya baca, manfaat bermacam bentuknya, bisa berupa membagikan ilmu (terutama ilmu agama), materi (harta/kekayaan), tenaga/keahlian, dan sikap baik.

Mungkin salah satunya juga lewat tulisan lah saya bisa membagikan kemanfaatan, tentang hikmah, ilmu, keahlian, dll. Menulis sebenarnya juga bukan perkara mudah bagi saya. Saya sadar masih banyak kekurangan dan masih terus belajar untuk menyampaikan hanya hal-hal yang baik dan dengan cara yang benar.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat buat saya sendiri. Karena bagi saya apa yang dilihat, dituliskan dan diutarakan lebih membekas diingatan dan sampai ke hati dibandingkan hanya tinggal dipikiran. Semoga Allah jaga niat kita untuk selalu lurus berada dijalanNya.

Jadi ini ceritanya talk to my self. Gitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s