Kuliah Perencanaan TPA 8 Jam Ala Praktisi

2 comments

Post ini berisikan tentang rangkuman yang saya dapatkan dari acara diskusi perencanaan TPA yang mengundang narasumber (akademisi, praktisi) dan penanggungjawab TPA di beberapa kota/kab di Indonesia serta konsultan.

Jadi ini acara apa?
Sebut saja ini kuliah. Kuliah sipil lebih tepatnya.

Saya lulusan teknik lingkungan. Saya belajar desain, mendalamnya diproses, tapi senangnya bicara pengelolaan, melihat masalah secara global. Ketika bicara masalah konstruksi bangunan penyehatan lingkungan itu sendiri, saya akui, kita butuh ahli sipil. Butuh ahli geodesi juga. Itulah yang selalu ditekankan oleh dosen saya, pentingnya kerjasama, kerja tim. Karena kita ini semua ahli di bidangnya masing-masing.

Indonesia punya 340an TPA yang konstruksinya sanitary landfill. Tapi alhamdulillah baru ada 10 TPA, yang pengoperasiannya walaupun belum sesuai dengan jenis TPA tersebut, udah dioperasikan secara controlled landfill.

Kenapa bisa seperti itu? Lagi-lagi ini menyoal biaya operasional TPA.

Sampai saat ini, belum ada perencanaan yang sempurna. Hampir semua perencanaan TPA ada perubahan. Perubahan rancangan ini dikarenakan perlu adanya perkuatan bangunan. Lagi-lagi init terkait hitungan sipilnya. Dan ini wajar.

Salah satu persoalan penting yang kerap dihadapi dalam pembangunan adalah  ketersediaan lahan. Kebanyakan lahan untuk TPA yang disediakan oleh pemerintah daerah tidak proporsional. Bisa jadi karena lahannya belum bebas (belum punya sertifikat), lahan dekat dengan hutan lindung, lahan dekat jurang, lahan terkena pasang surut air laut, lahan bekas penggunaan lain (bekas lubang galian, bekas tambak, bekas hutan), dll.

Yang pasti dari pelajaran singkat yang saya dapat dikelas, ngurusin pengadaan tanah ini panjang prosesnya, apalagi kalau ada masyarakat yang enggan menjual tanahnya. Prosesnya bisa lewat peradilan dulu. Setahun selesai itu udah termasuk cepat. Jadi buibuk bapakbapak yang tanahnya kena pembebasan lahan sama pemerintah buat fasilitas umum, tolong dipermudah. Ini insyallah bisa jadi amal kalau ikhlas.

Rata-rata luas TPA di satu kabupaten/kota itu 4 ha. Sedangkan luas sel/zona penimbunan sampahnya sekitar 1 ha untuk umur pakai 5 tahun.

Kalau diibaratkan nih ya, seluas itu bisa jadi satu kompleks perumahan. Misal luas 1 rumah 200 m2, maka bisa cukup untuk membangun 50 rumah dengan masa pakai kira-kira 25 tahun. Dan lahan seluas itu terpaksa jadi tempat penimbunan sampah. Karena apa? karena manusianya makin banyak, makin konsumtif, makin banyak nyampahnya, pada akhirnya makin berkurang ketersediaan lahan untuk membangun rumah generasi di masa depan. Ah, filosofis sekali.

IMG_20180315_113852
Sel penimbunan sampah

Penentuan lokasi TPA ini juga ga bisa asal-asalan, ada SNInya. Harus juga memenuhi readiness criteria yang dipersyaratkan jika pembangunan TPA tersebut pakai dana APBN. Ada buanyak dokumen yang harus dipersiapkan. Intinya ini bangunnya ga bisa main-main.

Penentuan lokasi TPA ini juga bersinggungan dengan RTRW. Disinilah perannya BAPPEDA buat ngeplot lokasi pengembangan suatu daerah sebijaksana mungkin. Dimana lokasi TPAnya, dimana area industrinya, dimana area permukimannya. Jangan sampai terkunci sama aturan yang dibuat sendiri, misalnya nih plot kecamatan A buat lokasi TPAnya, tapi sebenarnya lokasi itu ga cocok karena terlalu padat dan dekat ke permukiman. Jangan sampai kebijakan yang dibuat menyusahkan diri sendiri atau generasi selanjutnya.

Kembali ke cerita utama.

Dari diskusi tersebut, ada beberapa poin yang saya tangkap, ada yang mengenai kesalahan yang ditemukan dalam perencanaan TPA ada juga berupa saran-saran.

  1. Masih ditemukan pembuatan gambar belum sesuai kaidah gambar teknis (gamtek). Contoh simbol arsiran, gambar potongan melintang kurang lengkap – tidak menunjukkan elevasi dari sel TPA hingga ke IPL (instalasi pengolahan lindi), potongan cut & fill kurang informatif, dll.
  2. Lokasi buat naruh tanah hasil cutting perlu disediakan. Tanah galian tersebut perlu untuk kegiatan penutupan sampah (operasional TPA) sehingga tanahnya jangan dibawa keluar TPA, apalagi dijual.
  3. Analisis tanah ada, tapi seadanya. Pengujiannya tidak lengkap. Penyajian analisis tanahnya tidak informatif. Ini yang sering dibahas berulang dan ditekankan sekali. Detail mengenai ini akan saya ditulis di paragraf terpisah.
  4. Untuk tau jenis tanah, ga bisa hanya diliat kasat mata, dikira-kira doang. Perlu melakukan grain size analysis (analisis ukuran butiran) untuk mengetahui jenis tanah. Anak TL pernah belajar ini loh, walau cuma sepintas.

    grain-size-analysis-of-aggregates
    Alat uji grain size analysis (sumber: https://theconstructor.org)
  5. Kalau lokasi TPA bentuknya lereng atau dekat dengan jurang, lakukan analisis kestabilan lereng. Its a must!
  6. Perhitungan tinggi timbunan sampah maksimum yang diperbolehkan untuk jenis tanah di lokasi dibangunnya sel TPA. Ini penting untuk menghitung posisi bidang gelincir. Kalau bebannya terlalu berat melebihi daya dukung tanahnya, bisa mempercepat terjadinya longsor dan malah ikut longsor juga.
  7. Bangunan laboratorium di TPA sebaiknya tidak dimasukkan dari daftar bangunan penunjang TPA karena realisasinya sulit. Sulit buat cari analisnya. Lokasi TPA kebanyakan terpencil, pinggir kota, dan jauh dari mana-mana.
  8. Desain kolam anaerob masih ada yang terbuka, harusnya kolam tertutup. Ada juga saran untuk menambahkan bak ekualisasi sebelum masuk ke kolam anaerob agar aliran laminer. Kalau aliran laminer, proses jadi lebih optimal. Aliran yang fluktuatif tiba-tiba banyak atau sedikit, ini bisa menganggu proses. Bikin bakterinya kaget dan ga mampu menyisihkan polutan yang ada dalam air lindi.
  9. Rata-rata luas sel TPA itu sekitar 1 ha. Kadang terpaksa karena kondisi lahan (biasanya yang lahannya berupa lereng), luas selnya dibagi 2. Dibuat lebih kecil supaya lebih aman ga terjadi longsor. Nah tapi masalahnya IPL cuma 1 dan berukuran besar. Tentu pemanfaatan sel TPAnya kan ganti-gantian dan volume lindinya diawal kecil, sedangkan IPL yang dibangun berkapasitas besar. Tentu tidak sesuainya jumlah lindi yang masuk ke IPL dengan kapasitas olahnya ini ada pengaruhnya terhadap kinerja IPL. Ini juga yang perlu dipikirkan.
  10. Biaya operasional dan pemeliharaan (OP) TPA harus direncanakan seminimal mungkin. Caranya dengan menghindari pemompaan/ aliran secara gravitasi dalam pengaliran lindi ke IPL.
  11. Masalah tanggul di TPA. Tidak semua tanah galian bisa jadi tanggul. Sistem pemadatan tanggul (metode pelaksanaannya) harus jelas.
  12. Data elevasi harus detail. Misal elevasi dasar sel, elevasi pipa outlet terhadap badan air, elevasi banjir, dll. Ini untuk memastikan bahwa lindi benar-benar mengalir.
  13. Kondisi lahan TPA yang tidak memenuhi persyaratan, memerlukan perbaikan tanah melalui rekayasa geoteknik. Caranya sudah tersedia. Tapi ini biayanya ga main-main. Bahkan biaya perbaikan tanah bisa lebih mahal dibanding bangunan TPAnya itu sendiri.
  14. Jika akan dilakukan pengembangan TPA, maka harus dilakukan evaluasi yang komprehensif terhadap TPA eksisting, sehingga kesalahan yang terjadi pada konstruksi maupun pengoperasian TPA eksisting tidak akan terjadi lagi pada TPA yang akan dibangun.

***

Tentang Pengujian Tanah

Kenapa pengujian tanah penting? Karena ini berhubungan dengan kekuatan bangunan. Sipil is all about kekuatan, itu kata teman saya.

Dunia keinsinyuran teknik dekat dengan yang namanya pembangunan. Tak terkecuali seorang insinyur teknik lingkungan. Desain teknisnya bangunan teknik lingkungan masih kalah jauh dibanding jalan/bendung/bangunan. Padahal dari kasat mata, bentuknya bangunan TL lebih sederhana. Ketika audit, yang banyak jadi temuan adalah teknisnya, bukan prosesnya. Makanya ditekankan, implementasi teknisnya harus baik.

Salah satu hal mendasar yang harus diketahui ketika membangun suatu infrastruktur adalah analisis tanah. Berikut adalah catatan singkat terkait analisis tanah yang sering disebut berulang-ulang pada diskusi tersebut.

Jenis lapisan tanah itu ada 4: batu (gravel), pasir (sand), lanau (silk), lempung (clay). Tapi ada juga jenis tanahnya kombinasi, misal lempung berpasir. Yang tergolong tanah itu ukurannya lebih kecil dari 2 cm. Lebih besar dari itu tergolong batu.

Ada beberapa jenis pengujian tanah yang umumnya digunakan dalam perencanaan TPA, yaitu.

Sondir/CPT (Cone Penetration Test). Gunanya untuk menghitung daya dukung tanah, beban maksimum yang dapat dipikul tanah. Dari data sondir, dapat diketahui kekuatan tanah tiap kedalaman serta stratifikasi jenis tanahnya secara pendekatan.

Pengujian sondir dilakukan sampai ketemu tanah keras, dicatat nilai pada tiap kedalaman tertentu. Dalamnya bisa sampai belasan meter, kalau tanahnya bagus di 5 m udah ketemu tanah keras. Kemudian data tersebut digunakan untuk menghitung struktur bawah bangunan (daya dukung pondasi).

Dalam penyajian grafik sondir, harus disertai friction ratio. Friction ratio berperan untuk menunjukkan jenis tanahnya apakah lempung/pasir/lanau/gravel.

grafik2bsondir1
Kanan grafik sondir dan kiri friction ratio (sumber: http://jumantorocivilengiinering.blogspot.com)

SPT (Soil Penetration Test). Gunanya sama dengan sondir. Bedanya di skala.

Boring dan grain size analysis. Gunanya untuk mengetahui jenis lapisan/tekstur tanah, apakah sand, silk, clay, atau kombinasi. Untuk contoh tanah kombinasinya dapat dilihat pada kolom ketiga tabel dibawah ini.

it3
Tekstur tanah (sumber: https://bebasbanjir2025.wordpress.com)

Geolistrik. Gunanya untuk mengetahui ada tidaknya sumber air dan mengetahui kondisi tanah secara umum. Data geolistrik tidak bisa digunakan untuk menentukan jenis lapisan tanah karena data yang dihasilkannya hanya data umum. Tetap harus dilakukan grain size analysis. Singkatnya data geolistrik tidak terlalu diperlukan dalam perencanaan TPA.

Nilai settlement / penurunan tanah. Ini penting untuk lokasi-lokasi yang tanahnya bisa naik turun dengan cepat, misal tanah gambut, tanah yang terpengaruh pasang surut air laut, dll.

Analisis kestabilan lereng. Cek sliding (kemiringan longsor). Ini untuk TPA yang berlokasi di lereng/dekat jurang. Analisisnya pake software, contohnya plaxis 2D. Untuk hitung struktur pakenya software juga, contohnya sub.

Idealnya ada 3 pengujian tanah yang dilakukan: sondir, boring, dan SPT. Sondir dan SPT walau gunanya sama tetap harus dilakukan keduanya. Hal ini supaya datanya punya pembanding. Kalau data keduanya match, berarti pengujian yang dilakukan benar.

Kalau jenis tanahnya keras di lokasi perencanaan tersebut, cukup dengan pengujian boring dan SPT saja.

Kalau data SPT tidak ada, dapat diantisipasi dengan memperbanyak data sondir. Dalam menentukan jumlah titik sampel pengujian sondir harus sesuai ketentuan.

***

Jujur ini diskusinya sangat bermanfaat, banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan. Sebagai remah-remah rengginang yang minim pengalaman saya bersyukur bisa dapat kesempatan untuk belajar dari para pakarnya.

Dari hobi saya yang suka buat teori dari fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat ini, segala sesuatu pasti ada polanya, ada penyebabnya. Katakanlah kesalahan-kesalahan yang kita lakukan atau peristiwa yang kita alami, ga mungkin cuma kita sendiri yang mengalaminya, pasti pernah terjadi juga pada orang lain. Pun termasuk dalam merencanakan infrastruktur.

Kesalahan perencanaan infrastruktur bisa diminimalisir jika kita mengetahui poin-poin krusialnya itu ada dimana. Berulangnya kesalahan-kesalahan yang sama dapat dihindari jika kita tau peristiwa masa lalu/kesalahan terdahulu yang pernah dilakukan. Caranya gimana? dengan mendata peristiwa itu, yang berhasil di data, yang gagal juga di data. Semakin banyak data semakin baik. Mendata aja ga cukup, tapi juga harus diarsipkan dengan baik. Diarsipkan juga ga cukup, tapi juga harus disampaikan.

Yang junior bertanya dengan sopan ke senior. Yang senior menyampaikan yang baik ke junior.  Sharing is caring, right?

 

Advertisements

2 comments on “Kuliah Perencanaan TPA 8 Jam Ala Praktisi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s