Kunjungan Lapangan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah Terbesar di Indonesia, IPAL Bojongsoang

No comments

Masih seputar dunia teknik lingkungan, kali ini saya ingin membagikan hasil kunjungan lapangan saya ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) kota Bandung yang terletak tepatnya di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. IPAL kota bandung sendiri ini memang berada di kabupaten lain karena keterbatasan lahan.

Rasanya di zaman sekarang, di kota besar sulit untuk mendapatkan lahan puluhan hektar untuk dijadikan areal IPAL. Apa-apa semuanya di kota besar sudah padat merayap. Jalanan padat kendaraan, permukiman padat penduduk, transportasi umum padat empet-empetan. Engap juga lama-lama kalau hidup harus begini terus. Yaah jadi curcol deh.

Informasi umum

IPAL Bojongsoang mempunyai areal yang cukup luas yaitu 85 Ha dan berada di perbatasan antara dua desa, yaitu Desa Bojongsoang dan Desa Bojongsari. IPAL ini dibangun tahun 1990 dan mulai beroperasi tahun 1992. IPAL Bojongsoang melayani daerah Bandung Timur dan Tengah/Selatan. IPAL ini dikelola oleh PDAM Tirtawening Kota Bandung

IMG_20180801_115949

Dulunya lokasi tersebut merupakan areal yang jauh dari permukiman. Namun lama kelamaan, mungkin melihat adanya ‘potensi ekonomi’ banyak permukiman baru yang bermunculan di sekitar IPAL. Idealnya sih IPAL harus jauh dari permukiman tapi ini karena ketidaktahuan warga malah banyak yang membangun rumah di sekitar IPAL.

Kalau berdasarkan Permen PU No.4 Tahun 2017, IPAL Bojongsoang termasuk jenis SPALD-T (Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat) skala perkotaan dimana semua air limbah domestik dari sumber dikumpulkan secara kolektif di satu pengolahan terpusat sebelum di buang ke badan air. Selain skala perkotaan (minimal layanan 20 ribu jiwa), ada lagi SPALD-T skala permukiman  (layanan 50 sampai 20 ribu jiwa)  dan skala kawasan tertentu.

Kenapa sih perlu IPAL?

IPAL Bojongsoang berfungsi untuk mengolah air limbah rumah tangga (limbah domestik) dari area pelayanan Kota Bandung. Adanya IPAL juga kan menurunkan tingkat pencemaran badan air contohnya sungai-sungai di Kota Bandung. Air limbah domestik contohnya tinja, air cuci baju, dll haram untuk dibuang langsung ke sungai. Selain bikin kotor, bau, dan jadi sarang penyakit, estetika sungai jadi jelek banget. 

Bagi yang suka nonton drama korea atau film-film luar,  pasti pernah nonton kan scene yang piknik cantik menikmati pemandangan kota dari pinggir sungai. Kebayang gak sih kalau di Indonesia ada yang seperti itu juga? Gak perlu jauh-jauh ke luar negeri cuma buat liat sungai. Area sempadan sungai jadi ruang terbuka hijau yang keren banget, bisa jogging, bisa sepedaan, bisa duduk santai sambil memandangi kota.

Saya sih optimis kita bisa juga punya yang seperti itu kalau dari diri kitanya sendiri mau berpikiran maju dan mau diatur untuk menjadi lebih baik lagi. Simpelnya, coba mulai dari ubah mindset dulu, tidak semua tempat bisa dijadiin tong sampah. Sungai, selokan, jalanan bukan tong sampah jadi please bagi yang masih buang sampah sembarangan, saya curiga anda tidak lulus SD. 

Proses pengolahan IPAL Bojongsoang

Air limbah dialirkan melalui perpipaan dan saluran terbuka dari stasiun pompa yang berada di Jalan Soekarno Hatta. Tidak semua menggunakan perpipaan. Ada bagian yang menggunakan saluran terbuka sepanjang 3,5 km di pinggir jalan tol. Saluran terbuka ini juga melewati areal persawahan. Lebih amannya memang menggunakan saluran tertutup atau pipa, tapi dari yang disampaikan informan, karena keterbatasan biaya dipilihlah saluran terbuka.

1537019650516

Saluran terbuka ini sebenarnya tidak terlalu aman karena jadi disalahgunakan warga. Karena ketidaktahuan warga, air di saluran terbuka ini yang dikira adalah air selokan biasa, oleh warga diambil airnya untuk mengairi sawah. Errrmmm, jadi makin mikir-mikir lagi kalau beli beras. *Kalau ada konglomerat bandung silahkan invest bantu bikin salurannya disini hehehe*

Berikut adalah diagram pengolahan IPAL Bojongsoang.

QVXFfFh411STMh7eFRB9e9fA

Jenis proses pengolahan dibedakan menjadi 2 yaitu:

  1. Proses pengolahan fisik, untuk menghilangkan sampah, pasir, partikel, dan zat yang bisa disisihkan secara mekanik, terdiri dari:
    • Manual bar screen, guna pemisahan sampah ukuran besar. Ukuran barscreen 5 cm. Lokasi inlet dan manual bar screen berada di luar pagar areal IPAL Bojongsoang. Air limbah dialirkan dengan saluran terbuka yang berada di pinggir jalan dan melewati areal sawah.
      15370195183911537019557063

      1537019597644
      Pembersihan sampah yang tersangkut di barscreen oleh petugas

      Dari barscreen manual, air limbah akan dialirkan ke mechanical barscreen.  Bangunan barscreen berseberangan dengan pagar area IPAL sehingga air limbah dialirkan lewat perpipaan di bawah sungai.

      IMG_20180801_115625
      Di dasar sungai terlihat ada suatu bangunan yang berbeda warna

      1537019670170

      IMG_20180801_115747
      Kondisi sungai di luar pagar areal IPAL

      Jarak dari bangunan barcreen dan mechanical barscreen cukup jauh dan pengalirannya secara gravitasi sehingga titik terakhir air limbah sangat rendah. Air limbah dialirkan kembali ke atas dengan bantuan pompa screw agar bisa sampai ke mechanical bar screen.

      IMG_20180801_114809

      IMG_20180801_114614
      Bangunan pompa
      IMG_20180801_114513
      Pompa screw

       

    • Mechanical bar screen, guna pemisahan sampah ukuran kecil. Ukuran screen lebih kecil daripada manual bar screen. 

      IMG_20180801_114337

      1537019408888
      Masih banyak sampah yang menyangkut di mechanical bar screen

       

    • Grit chamber, guna pemisahan pasir. Pengangkat pasir bekerja secara otomatis.
      IMG_20180801_114258
      Aliran air limbah dari mechanical bar screen menuju grit rake

      1537019350375

      IMG_20180801_114026
      Grit rake, bentuknya seperti kolam. Ada pompa di atasnya dan pengaturan arah aliran sedemikian rupa sehingga aliran airnya ke sisi kanan dari gambar yang terdapat grit chamber

      1537019240152

      IMG_20180801_113752
      Grit chamber
    • Ventury channel, guna pengaturan debit untuk proses biologi. Air limbah yang telah melewati proses penyisihan pasir di grit chamber dialirkan ke kolam stabilisasi dengan menggunakan saluran terbuka dan ventury channel.IMG_20180801_113142
      IMG_20180801_113037
      Pintu air

      IMG_20180801_113403
      Pada ventury channerl terdapat bagian saluran yang menyempit. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan aliran
  2. Proses pengolahan biologi, untuk menguraikan zat organik yang terkandung dalam air limbah. Proses biologi berupa kolam-kolam stabilisasi sebanyak 2 set dimana tiap setnya terdiri atas:
    • Kolam anaerobik, berjumlah 3 kolam, terjadi proses degradasi menggunakan bakteri anaerob. Kolam anaerob memiliki kedalaman 4 meter dan waktu tinggal selama 2 hari.
    • Kolam fakultatif, berjumlah 2 kolam, terjadi proses fakultatif. Kolam tidak sedalam kolam anaerob. Waku tinggal air di kolam fakultatif selama 6 hari.
    • Kolam maturasi 1 dan 2. Terjadi proses penyempurnaan penguraian sisa zat organik yang masih terkandung dalam air limbah. Waktu tinggal di tiap kolam maturasi adalah 3 hari. Setelah dari kolam maturasi, air limbah berakhir ke anak Sungai Citarum.M91FNQ8TWKy5NrHNMT0h5y90
      dg4VWP0y7ryb2P0tdKYr5QEK
      Denah IPAL Bojongsoang. Sumber
      1537018972717
      Kolam stabilisasi jenis kolam anaerob

      Kami hanya bisa melihat kolam-kolam stabilisasi dari kejauhan karena area tersebut berbahaya dan tidak boleh dimasuki sembarangan. Di sekeliling area kolam diberi pagar agar tidak ada warga, anak-anak, hewan yang masuk ke dalam kolam.

Debit dan waktu detensi

Debit air limbah yang masuk adalah sekitar 86000 m3/hari. Air limbah ini berasal dari 3 jalur yaitu Gumuruh sebesar 35000 m3/hari (tapi yang terdata 32000 m3/hari), Cijaurah 17000 m3/hari, dan sisanya jalur tengah yaitu Bandung tengah perkotaan dan selatan yang dialirkan secara gravitasi tanpa pumping.

Total waktu tinggal air limbah dalam kolam-kolam tersebut dalam satu siklus pengolahan adalah 14 hari. Pengolahan ini merupakan pengolahan yang menggunakan sistem konvensional. Jika dibandingkan IPLT Kompak yang telah dibahas sebelumnya, waktu tinggal/detensi IPAL cukup lama.

Pemanfaatan lumpur

Dari proses pengolahan tersebut akan terbentuk lumpur yang mengendap di dasar kolam. Lumpur ini harus dikeluarkan agar kolam tidak menjadi dangkal dan efektifitas pengolahan berkurang. Pengerukan lumpur hanya dilakukan di kolam anaerob dan pada tahun 2017 ini berlangsung pada bulan Juni hingga Agustus. Saat kami berkunjung, sedang dilakukan pengerukan sehingga ada kolam yang tidak digunakan.

Lumpur yang dihasilkan dari kolam anaerobik digunakan sebagai pupuk organik. Pupuk tersebut dapat digunakan sebagai media tanam untuk berbagai tanaman hias. Kami juga berkesempatan untuk melihat langsung hasil tanaman di sekitar IPAL yang menggunakan pupuk organik tersebut. Pupuk dari lumpur ini juga diuji komposisinya untuk memastikan tidak ada kandungan berbahaya didalamnya.

1537019096005

IMG_20180801_113454

1537019483373
Pemanfaatan lumpur sebagai kompos

***

Lesson learnt

Kota Bandung sudah memiliki pengolahan air limbah secara terpusat. Nah ini keren menurut saya karena tidak semua daerah punya. Hanya ada 13 Kota di Indonesia yang memiliki IPAL berskala besar, salah satunya di Kota Bandung. Tapi tampaknya IPAL tersebut perlu ditingkatkan lagi pengelolaannya. Saat kunjungan, semua unitnya masih berfungsi baik dan sedang dioperasikan. Hanya saja saya merasa IPAL tersebut kurang terawat dengan baik, terkesan suram disana. Pekerjanya juga terlihat sedikit. Masih banyak lahan kosong di area perkantoran IPAL yang seharusnya bisa dimaksimalkan.

Padahal IPAL bisa jadi objek kunjungan yang menarik dan bahkan jadi wisata edukasi. Kalau mau jadi lebih baik tentu kita harus melihatnya ke atas. Contohnya saja seperti di Jepang. Pusat Daur Ulang Sampahnya sangat bagus dan  menjadi sarana belajar bagi murid sekolah dan masyarakatnya karena disana pengunjung bisa melihat langsung proses pengolahan sampahnya seperti apa secara detail. Makanya gak heran banyak warga jepang yang peduli dengan lingkungan karena dari kecil sudah dididik demikian.

***

Sumber:

  • Dokumentasi pribadi
  • Buku informasi tentang IPAL Bojoangsoang tahun 2018
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s