Maniac

No comments

Sudah lama tidak menulis tentang suatu hal pribadi. Izinkan saya kali ini menumpahkan keluh kesah disini. 

Akhir-akhir ini saya sulit sekali mengontrol diri untuk dalam melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Seharusnya saya tidak seperti itu, tapi itu hanyalah yang ada dalam pikiran saya, sedangkan anggota tubuh sangat-sangat berat untuk digerakkan.

Entahlah, mungkinkah ini yang namanya kecanduan?

Membuang waktu berjam-jam melakukan hal yang tidak bermanfaat. Membuang waktu berharga yang seharusnya dapat dipakai untuk menghasilkan karya. Ya contohnya tulisan ini.

Bermanfaat dan tidak bermanfat itu tergantung persepsi, termasuk bermain-main. Saya khawatir banget. Kadar bermain dengan hp dan internet ini sudah semakin memprihatinkan. Kenapa memprihatinkan? semakin saya sadari, kegiatan menggunakan internet ini sudah merenggut lebih dari separuh waktu produktif saya.

Tolong saya, saya khawatir.

Kegiatan sosmed dan browsing yang awalnya sebagai refreshing ini sudah tidak asik lagi. Mereka jahat. Membelenggu pengguna dengan bermacam inovasi dan kreativitasnya untuk betah berlama-lama menatap layar persegi panjang itu. Pengembang semakin untung, pengguna yang pintar semakin untung, dan pengguna yang tidak bijak semakin tersesat dalam kemalasan dan kebodohan.

Barusan banget kemarin diskusi tentang penggunaan gawai yang berlebihan dan dampaknya. Mengerikan. Kalau dipikir-pikir dampaknya sudah saya alami sendiri. Semacam membuat seseorang menjadi candu lalu idiot. Candu untuk terus menggunakannya, selalu kebayang-bayang untuk mencari dan membuka aplikasi tertentu, dan kalau tidak ada benda itu rasanya dunia hampa.

Yang lebih parah adalah jadi idiot. Membiarkan perut keroncongan, pergelangan tangan kesakitan, mata terforsir, waktu tidur berkurang, dan akhirnya menyadari apa yang dilakukan itu tidak benar. Tapi keesokannya tetap saja diulangi lagi, ulangi lagi. Apakah itu idiot?

Sedikit bersyukur dahulu waktu kecil belum kenal dengan gawai. Teman sehari-hari ya dengan daya imajinasi. Mainin benda mati seolah-olah dia bisa bicara dan bergerak. Merencanakan kegiatan apa yang dilakukannya dan mempraktekkannya. Semuanya dilakukan dalam waktu singkat. Kemampuan imaji membuat saya bisa menjadi seorang pendongeng kala itu. Mungkin kalau dikembangkan saya bisa menjadi seorang novelis dan penulis cerita.

Entah kapan saya sadari, kemampuan itu semakin pudar. Untuk mengarang satu halaman saja sulitnya sampai bikin kepala cenat cenut. Yang berbekas hanyalah memori kala kecil. Mainan pun berganti menjadi komputer yang keren kala itu tapi jika dikonversi ke sekarang hanyalah menjadi komputer lemot. Saya berhenti mulai saat itu.

Kali ini, saya putuskan untuk menulis apa yang ada dipikiran saya ini apa adanya. Terlepas dari nyambung atau tidaknya antar kalimat dan antar paragraf. Saya sadar bahwa saya ternyata lelah, lelah karena terlalu memaksakan harus menghasilkan tulisan yang bagus mirip dengan penulis yang telah keren. Saya belum bisa sampai ke tahap itu. Saya tidak mau jadi maniac terlalu banyak meniru. Biarlah imaji ini bebas untuk kali ini agar bisa mengalir lebih deras.

Sekian. Perutpun sudah keroncongan. Mari kita tutup tulisan campur sari ini disini.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s