Kunjungan ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Gumuruh, IPLT Kompak Pertama di Indonesia

One comment

Salah satu indikator septic tank yang baik adalah adanya penyedotan lumpur tinja secara berkala setiap 3 tahun. Mengenai tangki septik yang benar dan aman telah saya tuliskan juga di postingan sebelumnya disini.

Sekedar informasi, lumpur tinja dan tinja itu berbeda. Lumpur tinja ada hasil pengolahan dari septic tank yang mengendap. Wujudnya pun beneran seperti lumpur, sudah berbeda banget dari bentuk tinja.

Kalau teman-teman ingin disedot tangki septiknya secara berkala, ada program pemerintah namanya layanan lumpur tinja terjadwal (LLTT). Setau saya di kota-kota besar di Indonesia program ini sudah berjalan dengan baik. Lumpur tinja yang telah disedot dari rumah-rumah warga, kemudian dibawa ke instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) untuk diolah agar aman tidak mencemari lingkungan.

Ada dua jenis IPLT, IPLT konvensional dan IPLT Kompak.

IPLT konvensional membutuhkan lahan yang cukup luas. Adanya keterbatasan lahan di kota-kota besar, menyebabkan sulitnya untuk membangun IPLT konvensional. Pembebasan lahan masyarakat mahal buangeet, bahkan lebih mahal dari bangunan IPLTnya sendiri dan tentu tidak semua masyarakat mau pindahkan. Maka dari itu, muncullah inovasi baru yaitu IPLT Kompak.

Lokasi IPLT

Bulan lalu, saya berkesempatan untuk melihat langsung IPLT Kompak Pertama di Jawa Barat yang berlokasi di Gumuruh, Jalan Soekarno Hatta, Bandung. Saat kunjungan berlangsung, IPLT Kompak Gumuruh tersebut sedang tahap perbaikan dan pengembangan. Alhamdulillah dapat satu lagi ilmu baru.

Sekedar informasi lagi, pengelola IPLT Gumuruh adalah PDAM Tirta Wening Bandung yang juga mengelola PDAM Bandung dan IPAL Bojong Soang. Bagi masyarakat yang berlangganan sambungan air bersih ke PDAM Bandung, layanan penyedotan lumpur tinja ini sudah termasuk di dalam pembayaran air bersih tersebut (CMIIW).

Sebelum adanya IPLT, lumpur tinja yang disedot dari pengolahan setempat dibuang ke jaringan perpipaan air limbah domestik Kota Bandung yang mengalir ke IPAL Bojong Soang. Hal ini tidaklah ideal karena berpotensi mengganggu sistem pengolahan air limbah. Oleh karena itu, dibutuhkan pengolahan khusus lumpur tinja.

Kalau biasanya bangunan IPLT konvensional bentuknya kayak kolam-kolam, tapi IPLT kompak ini beda. Bangunan IPLTnya unik banget. Baru pertama kali saya lihat bangunan IPLT menggunakan container gede.  Ada banyak peserta yang naik ke atas container ini dan terbukti kokoh. Saya juga sempat naik ke atas buat liat langsung isi dalam container ini.

Kapasitas IPLT

Kapasitas pengolahan IPLT Gumuruh adalah 20 m3 per hari. Tiap harinya, IPLT ini akan mengolah lumpur tinja dari 6-8 truk tinja yang berkapasitas 2-3 m3. Kalau dikonversikan, kapasitas IPLT ini bisa menampung  sekitar 1000an galon air.

Pengolahan lumpur tinja di IPLT Gumuruh ini menggunakan pengolahan biologi. Pengolahan ini memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan kandungan organik yang ada di dalam lumpur tinja. Metode pengolahan yang digunakan adalah Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) dimana mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak melekat pada suatu media atau istilah teknik lingkungannya sistem biakan seperti ini disebut sistem fluidized attached growth.

Diagram alir pengolahan

tempsnip

Walau yang kelihatan hanya berupa bentuk container, tapi ternyata prosesnya banyak. Alur pengolahan dengan MBBR ini terdiri atas:

  1. Bak penampung. Di dalamnya terdapat bar screen untuk menyaring sampah dan benda padat lainnya. Bak penampung ini ada 2 kompartemen. Bak 1 untuk menerima lumpur tinja dari tangki septik dan pengendapan pasir. Bak 2 untuk menerima lumpur tinja dari Bak 1 dan meneruskannya ke rotary screen.

    IMG_20180801_090025
    Bak penampung
  2. Rotary screen: menyaring sampah/plastik yang lolos dari bak penampung.

    img_20180801_090731.jpg
    Rotary screen
  3. Bak pengendap awal: memisahkan lumpur, minyak dan lemak serta supernatan. Lumpur mengendap di bawah, sedangkan minyak dan lemak menuju ke grease trap dan supernatan mengalir secara hidrolis ke bak berikutnya.
  4. Bak anoxic. Di dalamnya terjadi pengadukan lambat dengan propeler blade dan terdapat media kaldness. Bak ini berfungsi untuk menguraikan zat organik terlarut dan proses denitrifikasi oleh bakteri anaerob.
    img_20180801_090519.jpg
    Didalamnya ada benda yang berbentuk drum-drum kecil
  5. Bak MBBR, terdiri dari 2 unit bak. Berupa bak aerasi dengan media filter kaldness. Bak ini berfungsi untuk menguraikan zat organik dan penyisihan nitrogen dan fosfor oleh bakteri aerob.
    IMG_20180801_091600
    Pipa untuk menyalurkan udara ke dalam bak MBBR
    IMG_20180801_090501
    Media kaldness tempat melekatnya mikroorganisme

     

  6. Bak pengendap akhir. Didalamnya terdapat plate settler. Bak ini berfungsi untuk memisahkan partikel pada yang terlarut dengan air. Lumpur dari bak ini di recycle dengan pompa submersible ke bak anoxic dan bak MBBR.

Dari pengolahan MBBR di atas, masih tersisa yaitu lumpur. Lumpur ini diolah dengan pengolahan lanjutan yang terdiri dari:

  1. Sludge thickener, menerima lumpur dari bak pengendap awal, ruang pompa, bak anoxic, dan bak MBBR 1 dan 2. Unit ini berfungsi untuk mengurangi kadar air dalam lumpur dan mengentalkan lumpur.

    img_20180801_092617.jpg
    Sludge thickener
  2. Filter press, menerima lumpur dari sludge thickener dan mengolahnya menjadi sludge cake. Air yang tersisa dialirkan ke kolam bioassay.

    IMG_20180801_092851
    Filter press
  3. Kolam bioassay, menerima efluen dari bak pengendap akhir dan filter press. Berfungsi sebagai kolam indikator sebelum air dibuang ke bada air.
    IMG_20180801_093330
    Bak kontrol sebelum ke kolam bioassay

    IMG_20180801_093017
    Kolam bioassay

Kelebihan IPLT Kompak

  • Kebutuhan lahan relatif kecil
  • Dapat diletakkan dekat dengan pelayanan sehingga menghemat biaya transportasi truk tinja
  • Ritasi truk dapat ditingkatkan
  • Waktu detensi lebih singkat dibanding IPLT konvensional yaitu 48 jam
  • Cocok dalam penerapan LLTT

Kekurangan IPLT Kompak

  • Biaya investasi lebih tinggi
  • Kapasitas pengolahan kecil
  • Biaya operasional dan maintanance (OM) lebih tinggi karena pengoperasian membutuhkan energi listrik
  • Masih terus memerlukan penyempurnaan karena ini termasuk teknologi baru

***

Setelah pemerintah membangun IPLT ini, pertanyaan selanjutnya, apa yang masyarakat perlu lakukan?

Sebagai masyarakat khususnya warga kota bandung, bisa banget berkontribusi untuk menjaga IPLT yang telah dibangun pemerintah dengan uang rakyat yang nominalnya tidak sedikit (baca: milyaran rupiah). Jangan mau rugi, infrastruktur ini harus benar-benar dimanfaatkan karena pembangunannya dari uang pajak kita.

Caranya gimana? 

  1. Manfaatin program layanan lumpur tinja terjadwal. Sedot lumpur tinja tangki septik rumah menggunakan jasa yang terpercaya. IPLT bisa berjalan optimal jika inputnya yaitu lumpur tinja juga terus ada. Kalau gak ada input atau inputnya terlalu sedikit dari kapasitasnya, proses pengolahan gak akan berjalan optimal.
  2. Jangan buang sampah di toilet rumah. Gak ngerti lagi bisa-bisanya ada plastik, popok, tisu, dan sampah lainnya di tangki septik. Sampah-sampah ini gak akan hancur di dalam tangki septik. Saat penyedotan lumpur tinja, sampah-sampah ini juga ikut kesedot. Lumpur tinja yang bercampur dengan sampah yang masuk ke IPLT bisa merusak IPLT.

***

Sekian sesi sharing-sharing kerjaan teknik lingkungan. Memang agak bosenin emang kontennya bagi yang bukan teknik lingkungan ya. Hahahaha. Sebenarnya saya tulis ini supaya me-refresh lagi ilmu yang pernah saya dapatkan karena ingatan saya short time memory. Kalau-kalau dibutuhkan, informasinya tersimpan abadi di internet.

Saya tulis ini juga dengan tujuan bukan cuma saya yang tau, tapi juga makin banyak masyarakat yang mau peduli. Semoga bermanfaat ya!

 

Sumber:
– Dokumentasi pribadi
– File kunjungan lapangan
– Situs: https://www.gesi.co.id/instalasi-pengolahan-lumpur-tinja-iplt-gumuruh-kota-bandung/

Advertisements

1 comments on “Kunjungan ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Gumuruh, IPLT Kompak Pertama di Indonesia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s