Awal memulai berhijab

No comments

Hijab/jilbab/kerudung adalah sebutan yang umum digunakan oleh muslim di Indonesia untuk kain penutup kepala perempuan. Tidak semua muslim diwajibkan untuk memakai hijab. Hijab hanya diwajibkan untuk perempuan. Laki-laki dan anak kecil yang belum baligh tidak berkewajiban memakai hijab. Tidak setiap waktu juga perempuan memakai hijab, hanya ketika dia keluar rumah atau bertemu yang bukan mahrom.

Ada yang menganggap memakai hijab wajib dan masih banyak yang menganggap tidak wajib. Semua anggapan itu terbentuk dari pengetahuan. Dan pengetahuan itu didapat karena belajar.

Katanya pakai hijab itu butuh kesiapan? Sebagian yang belum berhijab, beralasan katanya menunggu hidayah dari Allah SWT. Hanya yang sekedar tau, ‘oh hijab ya, nantilah’, menganggapnya angin lalu, bisa kapan-kapan, umur masih panjang dan santai sajalah.

Ya itu adalah gambaran pemikiran saya ketika masih berusia 14 tahun. Masih piyik. Baru diterima SMA, tahun 2010. Yang ingin saya bagikan disini adalah secuil kisah dari milyaran manusia muslim dan mukmin yang berlomba-lomba mengharapkan surga Allah. Walau tidak banyak, semoga ada bagian yang bisa memotivasi teman-teman pembaca.

Saat beranjak SMA, desakan dan ocehan dari orangtua untuk memakai jilbab semakin intens. Akhirnya dengan ikhlas (terpaksa), tanpa pikir panjang dan tanpa ilmu, saya memakai jilbab di hari pertama masuk SMA. Pas pulang, jilbab udah ga karuan acak-acakannya. Hampir setiap hari diawal-awal memakai jilbab saya menggerutu. Menggerutu karena susah sekali merapikan jilbab.

Ga ada pujian. Ga ada dukungan. Belum ada sosial media untuk membagikan keluh kesah. Dulu jilbab/hijab belum sebooming sekarang. Apalagi ga ada yang tau kalau dulu saya belum berhijab kecuali teman-teman smp yang sma nya sama lagi. Semua kekesalan itu saya pendam.

Saat itu, saya tidak tau mengapa saya harus pakai jilbab dan manfaat jilbab ini. Yang saya tau saya memakai jilbab supaya orangtua saya ga ngoceh terus.

Di awal-awal saya berniat hanya untuk memakai jilbab di saat sekolah saja dan diluar itu dilepas lagi. Tapi alhamdulillah tak berapa lama kemudian saya memutuskan untuk memakainya terus. Tau kenapa? Simpel sebenarnya, karena jleb dengan gurauan teman saya “Jilbabnya mana? Hilang ya ditiup pas naik motor” dan beberapa lainnya. *Balada si introvert super sensitif*

Wajah masih hahahihi padahal mendengar ucapan demikian hati saya teriris. Walaupun itu pertanyaan biasa atau guroan biasa menurut kebanyakan orang. Toh padahal juga saat itu teman saya lainnya juga ada yang lepas pasang.

Alhamdulillah Allah masih beri saya rasa malu dan beri saya hati sensitif. Akhirnya biar hati damai, semua damai, saya pakai terus jilbabnya. Awalnya tiap hari masih terasa berat. Berat karena ga ikhlas. Namun karena rasa malu saya jauh lebih besar jadi yasudah saya lanjut pakai seterusnya.

Kadang saat itu masih ada perasaan beban memakai jilbab. Apa iya pantas, padahal saya anaknya masih rebel dan suka melawan orangtua. Masih ingin main-main bebas. Jadi tambah beban lagi setelah pakai jilbab bukannya ocehan orangtua berkurang, malah ada-ada aja desakan lainnya. Contohnya disuruh ikut kajian remaja. Belum selesai masa penyesuaian yang satu, ditambah lagi yang lainnya yang benar-benar asing buat saya. Tambah menjadi-jadilah saya cemberut dan menggerutu dinasehati.

Tahun 2010, orangtua mulai hijrah, mulai ikut kajian sunnah. Perlahan mulai berpenampilan syari. Hari-hari tak lagi sama seperti sebelumnya. Dampaknya besar kepada anak-anaknya, itu yang saya rasakan, terutama masalah psikis. Anaknya kok gitu padahal orang tuanya seperti ini. Mendadak semua hal menjadi terlarang. Mendadak saya tak boleh melakukan ini itu. Mendadak saya harus mengikuti semua perintah Allah yang disampaikan orangtua. Seringkali saya kesal dan marah sendiri, kaget dengan keadaan.

Kaget. Banyak sekali perintah Allah mengenai hal-hal yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Bukannya sadar akan kebodohan, malah saya masa bodo dengan hal tersebut. Saya yakin apa yang disampaikan itu benar, terlebih yang berkaitan dengan agama. Namun saat itu, saya belum mau melaksanakannya. Lagi-lagi karena ego. Bagi saya, penyampaian semua informasi terlalu mendadak dan saya butuh waktu yang lama untuk beradaptasi. *Balada si introvert yang sulit beradaptasi*

Singkat cerita, 4 tahun lamanya saya berkuliah, Allah maha baik dengan memberi saya dikelilingi orang-orang yang baik. Muslimah-muslimah yang baik. Saat itu saya tersadar, betapa beruntungnya saya memiliki orangtua yang memiliki pemahaman ilmu agama yang baik, yang bisa menjadi tempat saya bertanya tentang ilmu agama. Betapa beratnya Muslimah-muslimah yang awal hijrahnya berjuang sendiri, belajar sendiri, dan bahkan ada yang ditentang keluarganya. Di sisi lain, mereka tetap bersabar, berbicara lemah lembut, memberi pengertian kepada orangtuanya.

Semakin kesini saya semakin menyadari, ternyata berjilbab bukanlah apa-apa. Bukanlah langkah hijrah saya yang paling berat. Tau apa yang paling berat? Apa sebenar-benar langkah pertama hijrah? Membuka hati untuk mau mempelajari ilmu agama. Dan selanjutnya mengamalkannya. Dan kemudian lagi berusaha untuk tidak kembali lagi ke kebiasaan lama.

Sejatinya kita bisa nyaman dengan keadaan ketika kita mau bersabar. Ini yang saya yakini.

Berjilbab bukan tanda kita menjadi alim. Dengan berjilbab bukan juga secara instan bisa mengubah kita menjadi baik. Berjilbab adalah suatu upaya untuk menutup peluang tabungan dosa. Belajar menyempurnakan jilbab merupakan kewajiban kita sebagai seorang Muslimah. Berjilbab juga merupakan bentuk bahwa kita menyayangi ayah dan saudara laki-laki kita dan tidak ingin mereka ikut menanggung dosa karena kita tidak menutup aurat.

Kalau baca-baca tulisan ini lagi jadi suka lucu sendiri. Masih belum ada apa-apanya, saya masih jauh dari kata baik menurut Allah. Semoga tulisan ini menjadi pengingat buat saya dan ada hikmah yang bisa diambil teman pembaca sekalian. Semoga Allah beri kita istiqamah untuk terus berproses untuk menyempurnakan hijab.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu* itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

*ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (penjelasan lengkapnya baca disini)

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka menjulurkan khimarnya (jilbab) ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Al-Ahzab ayat 59)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s