Mengunjungi proyek baru di TPA Rawa Kucing, Tangerang

No comments

​Pada bulan Maret lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi TPA Rawa Kucing sebagai bagian dari OJT CPNS yang sedang saya jalani. Buat yang ingin tau bagaimana isi TPA terkini, mungkin tulisan ini bisa sedikit menggambarkannya.

TPA Rawa Kucing berlokasi di Kota Tangerang. Untuk sampai ke lokasi TPA, perjalanan dari Jakarta memakan waktu kurang dari 2 jam.

Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk melihat konstruksi pembangunan zona baru untuk penimbunan sampah. Seiring dengan peningkatan penduduk, daya tampung sampah TPA pun perlu ditingkatkan.

Seperti umumnya bangunan TPA lama di indonesia, lokasi/zona penimbunan terdahulu tidak menggunakan konstruksi apapun. Hanya menggunakan prinsip open dumping. Tidak ada penanganan air lindi sampah

Kini, metode seperti ini harusnya sudah tidak boleh digunakan lagi karena air lindi dari penimbunan sampah dapat meresap masuk ke dalam tanah dan mencapai air tanah. Sumur-sumur air tanah warga yang berada di sekitar TPA dapat berpotensi tercemar air lindi.

Pada proyek baru di TPA Rawa Kucing, dilakukan beberapa pekerjaan peningkatan TPA, salah satunya pembangunan zona penimbunan baru dengan konstruksinya menggunakan metode sanitary landfill (lahan urug saniter).

Apa itu sanitary landfill?

Sanitary landfill adalah metode pengurugan sampah ke dalam tanah, dengan menyebarkan sampah secara lapis per lapis pada sebuah lahan yang telah disiapkan. Kemudian dilakukan pemadatan dengan alat berat dan pada akhir hari operasi urugan sampah tersebut kemudian ditutup dengan tanah penutup. Untuk lebih detailny mengenai sanitary landfill bisa baca disini.

Ada 8 pekerjaan yang dilakukan untuk meningkatkan TPA Rawa Kucing. Berikut ini adalah informasi mengenai paket pekerjaan peningkatan TPA rawa kucing (Sumber: PUPR, 2018).

  1. Pekerjaan unit pengolahan sampah : pembangunan landfill seluas ±5,2 ha, dasar landfill dilapisi dengan material geosynthetic dan gravel
  2. Pekerjaan perkerasan jalan operasional : panjang jalan ±1,4 km, jalan operasional lebar 6 m dengan rigid beton tebal 30 cm, dilengkapi dengan dumping area truck sampah
  3. Pembangunan unit pengolahan lindi : luas area IPL ±0,5 ha, terdiri dari bak pengolahan anaerobik, fakultatif, aerobik, dan wetland.
  4. Pekerjaan saluran drainase : panjang drainase mengikuti jalan operasional TPA (sisi kanan dan kiri), material drainase menggunakan uditch precast
  5. Pekerjaan lampu penerangan jalan : dipasang sepanjang jalan operasional, jarak antar tiang per ±50 m
  6. Pekerjaan pagar : pekerjaan pagar dilakukan pada sisi area strategis TPA sepanjang 405 m
  7. Pengadaan peralatan ruang uji : Pengadaan disesuaikan dengan standar lab pengolahan air
  8. Pekerjaan landmark : Pemasangan landmark “TPA Rawa Kucing Kota Tangerang” di lokasi strategis

Berikut adalah beberapa gambar yang saya ambil di lokasi TPA.

IMG_20180315_113311
Pipa vertikal untuk menangkap gas landfill yang dihasilkan. Dasar landfill dilapisi dengan material geosynthetic dan gravel

IMG_20180315_113335

IMG_20180315_113852

Ini pertama kalinya buat saya untuk melihat bagaimana konstruksi sanitary landfill sebelum zona penimbunan digunakan. Melihat secara langsung apa yang selama ini hanya bisa dibaca dari buku kuliah dan standar kriteria yand dimuat dalam peraturan teknis. Satu tambahan pengalaman berharga lagi merasakan ‘dunia lapangan teknik lingkungan’ yang sesungguhnya. Walaupun ini bukan kunjungan pertama saya ke TPA, namun perasaan ‘takjub’ melihat isi TPA itu masih ada.

IMG_20180315_115736
IMG_20180315_115607 IPL Pengolahan Aerobik
IMG_20180315_115450
IMG_20180315_115421 IPL Pengolahan Anaerobik-Fakultatif
IMG_20180315_114550
Zona penimbunan lainnya yang dilapisi dengan tanah merah.
IMG_20180315_120834
Drainase lindi diberi penutup

Beberapa sisi lainnya TPA masih cukup memprihatinkan. Perlu diketahui bahwa tidak semua zona penimbunan yang dikelola oleh Pemda. Ada  zona penimbunan sampah tertentu yang dikelola oleh swasta sehingga mungkin tidak sesuai kriteria teknis.

IMG_20180315_112702

Zona timbunan sampah bukan sanitary landfill. Terlihat jelas bahwa isi timbunan adalah material yang tidak bisa dikomposkan seperti botol plastik, kresek, potongan kain, dll.
IMG_20180315_115002
IMG_20180315_120657 Lindi sampah berwarna hitam pekat dan berbau tajam. Pada zona penimbunan lama, air lindi keluat dari sela-sela lereng timbunan dan kemudian mengalirkan ke bawah. Air lindi lalu dialirkan secara gravitasi melalui saluran terbuka menuju Instalasi Pengolahan Air Lindi.
IMG_20180315_112725
Pondok-pondok pemulung yang memilah sampah TPA
IMG_20180315_121425
Rumah/pondok tempat tinggal pemulung di TPA

Kegiatan pengomposan sampah mudah membusuk di TPA ini berjalan dengan baik. Hal ini dapat terlihat dari tersedianya fasilitas pengomposan. Kompos dari sampah dimanfaatkan untuk taman dan juga dijual ke masyarakat sekitar. Hasil kompos sampah ini sudah teruji aman dan layak digunakan.

IMG_20180315_122353
Fasilitas pengomposan

IMG_20180315_123451

IMG_20180315_122955

IMG_20180315_123300
Taman di TPA Rawa Kucing

Dari kungjungan ini saya menyadari bahwa mempelajari pengelolaan persampahan itu mudah, namun tantangan yang beratnya adalah mengimplementasikannya karena berkali kali lipat luar biasa susahnya. Aspek pengelolaan lingkungan yaitu teknis, hukum/peraturan, lembaga, peran serta masyarakat, dan pendanaan harus saling mendukung. Pengelolaan lingkungan butuh kerjasama tidak bisa hanya mengandalkan bergerak sendiri-sendiri.

Semakin mempelajarinya, semakin besar idealisme mengenai lingkungan yang sehat. Semakin besar idealisme, semakin besar rasa sedih saya karena menyadari kita benar-benar tertinggal dalam hal pengelolaan lingkungan. Perlahan tapi pasti, percayalah semua elemen sedang mengupayakan untuk perbaikan dan peningkatan. Pilihan tersedia luas, mau jadi penonton, partisipan, atau tetap menjadi penyampah.

Lesson learnt yang saya dapat dari kunjungan ini dapat diringkas dalam beberapa poin berikut ini.

  1. Membangun dengan prinsip sanitary landfill itu sangat mahal.  Untuk bangun satu zona saja membutuhkan milyaran rupiah. Belum lagi biaya operasional untuk pemadatan tanah dan pelapisan dengan tanah merah secara rutin.
  2. Kalau ada yang membiarkan membangun TPA disekitar rumah anda hanya dengan prinsip open dumping alias ditimbun begitu saja, selamat! artinya anda membiarkan air tanah di rumah anda tercemar oleh lindi dari sampah.
  3. TPA bisa menjadi ladang untuk mencari nafkah bagi pemulung bahkan ada beberapa keluarga pemulung yang memang tinggal di TPA. Miris memang melihatnya. Mereka terbiasa menghirup bau sampah setiap hari dan bertempat tinggal di rumah dan lingkungan yang jauh dari kata layak dan sehat. Sungguh kenyataan ini bisa menambah  syukur atas apa yang kita dimiliki hari ini.
  4. Semua orang bisa berpartisipasi untuk mengurangi sampah yang terbentuk, dari yang muda sampai yang tua. Cara termudah untuk berkontribusi adalah melakukan pemilahan dan  3R di rumah masing-masing. Reuse, Reduce, Recycle. Tidak hanya mengurangi kontaminasi sampah yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan, dengan melakukan pemilahan artinya kita sudah beramal untuk meringankan beban pekerjaan petugas kebersihan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s