Suka Duka Kuliah Teknik Lingkungan?

No comments

Kalau saya menanyakan hasil nyata dari kerja seorang arsitek apa? Kebanyakan bisa menjawab dengan cepat yaitu merancang bangunan-bangunan.

Kalau saya menanyakan hasil nyata dari kerja seorang insinyur teknik sipil apa? Pasti sudah tau juga yaitu jembatan, jalan, bendungan, bangunan menjulang tinggi dan lain-lain.

Kalau saya menanyakan hasil nyata dari kerja insinyur teknik lingkungan apa? ((Tik tok tik tok)) ((mikir keras)) itu ngapain ya? *malah nanya balik*

Bahkan ke keluarga saya pun, saya masih belum bisa menjelaskannya dengan baik. Kenapa? Karena hasil kerja nyatanya untuk kemaslahatan orang banyak masih langka di lingkungan rumah saya, di tempat tinggal kakek nenek saya, di tempat tinggal om tante saya.

Saya ingin jawabnya insinyur teknik lingkungan mendesain bangunan instalasi pengolahan air bersih di PDAM, tapi air bersih di rumah saya dari air sumur yang dibangun tukang sumur ledeng.

Saya ingin menjawab mendesain instalasi pengolahan air limbah/lumpur tinja, tapi di rumah saya pakenya septic tank yang ga pernah disedot lumpur tinjanya, alias cubluk, alias air limbahnya masih meresap ke dalam tanah. Kalau septic tank kan dasarnya kedap air dan suatu saat akan penuh dan perlu dikuras.

Saya ingin jawab mendesain sistem pengelolaan sampah rumah tangga, desain TPS, desain TPA, tapi ga ada terlihat TPS di sekitar rumah saya. Apalagi TPA yang lokasinya pasti jauh dari permukiman penduduk. Mungkin hanya sebagian sangat kecil penduduk yang tau lokasi keberadaan TPA ini dan TPA biasa jumlahnya satu di tiap kota. Yang saya liat, tiap hari ada seorang petugas yang rutin angkut sampah dari rumah-rumah, habis itu ga tau lagi deh kemana itu sampah. Kalau di sekitar rumahnya ga ada yang angkut sampah, buang sampahnya ke lahan kosong/semak-semak (biasanya di lahan seperti ini ada sudah ada aja tumpukan sampah yang lumayan banyak.

Jadi saya harus jawab apa dong?

((Sebenarnya masih banyak dan luas lagi yang dipelajarin. Tidak hanya ketiga topik tersebut. Namun penjelasannya bakal lebih kompleks lagi dan sulit dilihat di kehidupan sehari-hari, apalagi dibayangkan))

Ketika sebagai seorang mahasiswa jurusan teknik lingkungan, saya mempelajari contoh-contoh nyata/ implementasi keilmuan dari jurusan ini di negara-negara lain, terutama di negara-negara maju. Contohnya dalam hal pengelolaan sampah, sistem pengumpulannya yang sudah baik, adanya unit pengolahan sampah yang canggih, daur ulang sampah yang berjalan dengan baik (bahkan bisa jadi sumber energi) dan lain-lain. Pokoknya keren dan kompleks banget lah kalau lihat dari youtube.

Saya bertanya-tanya kapan ya, di lingkungan rumah saya ada sistem pengelolaan sampah yang seperti itu juga?

Pertanyaan selanjutnya, perlu ga sih sistem yang kompleks tersebut di daerah saya? Toh dengan sistem pengelolaan sampah yang adanya seperti ini belum terjadi masalah apa-apa? Masih aman-aman saja?

Ya, ga perlu untuk sebagian orang. Tapi perlu untuk sebagian lainnya. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti saat hal ini sudah menjadi mayoritas (banyak) yang membutuhkan dan menuntut sistem yang lebih baik.

Coba deh sering-sering nonton youtube pengalaman orang yang tinggal di negara maju. Kota disana bisa bersih dan sistem pengelolaan lingkungan disana benar-benar diimplementasikan. Padahal negara tersebut merdekanya di tahun yang sama dengan negara kita dan kondisi lingkungannya bisa

Di perkuliahan, jurusan teknik lingkungan belajar segala menyeluruh permasalahan lingkungan yang di air, tanah, dan udara. Belajar rantai dampak dari limbah padat, udara, dan cair dari aktivitas manusia masuk ke lingkungan.  Pencemaran lingkungan, seperti air yang kotor, lingkungan kotor, udara kotor (bau), ujung-ujungnya akan berdampak juga ke manusia, seperti jadi sumber bibit penyakit, gangguan kesehatan, dan sebagainya. Oleh karena itu, kita harus menjaga lingkungan ini tetap berkelanjutan (sustainability).

Oke, paradigma dari hal di atas yang saya ceritakan adalah di hilir sistemnya yang akan berbahaya ke manusia. Dan kondisi hilirnya tersebut belum terjadi saat ini atau hanya terjadi di daerah tertentu saja seperti di kota-kota besar.

Sebagai orang yang cuek, saya berpikirnya bakal toh kondisi tersebut akan terjadi dalam jangka waktu yang lama. Kalau pun terjadi sekarang tiba-tiba lingkungan rumah saya menjadi jelek, saya masih bisa pindah, masih banyak lokasi baru lainnya yang masih sehat yang bisa saya tempati.

Paradigmanya adalah kebutuhan di hilir, fokusnya kepada lingkungan. Fokusnya kepada generasi manusia yang lahir di masa depan.

Mari kita fokuskan paradigmanya ke hulu, yaitu manusia saat ini.

Kenapa tidak generasi manusia sekarang yang dipenuhi kebutuhannya? Emang apa sih kebutuhannya?

Berdasarkan pemantauan dan pengalaman saya, salah satu kebutuhan manusia yang sering tidak disadari adalah memenuhi hajatnya dalam hal kegiatan membuang sampah. Membuang sampah pada tempatnya yang sesuai. Selama masih bernyawa, setiap hari manusia akan menghasilkan produk sampingan yaitu sampah. Baik dari aktivitas biologis tubuh manusia maupun aktivitas sehari-hari.

Ada input ada output.

Di abad 20 ini, masyarakat yang konsumtif semakin meningkat. Apalagi dengan adanya kemudahan teknologi sekarang. Belanja online sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Lihat saja berapa banyak onlineshop yang ada saat ini. Berapa banyak barang yang terjual setiap hari. Buayaak banget dong..

Lalu, berapa banyak sampah kita? Berapa banyak barang yang akan menjadi sampah setiap kita membeli barang baru? Makin banyak. Untuk sampah dari sandang aja udah banyak. Pakaian, baju, tas, sepatu bekas ini harus saya kemana kan? ((Lah repot repot amat mikirinnya, ya disumbangin lah kalau masih layak. Atau kalau masih bagus, dijual lagi)). Kalau udah ga layak, dijadiin kain lap. Lalu kain lapnya lalu dibuang ke… tong sampah dapur? Salah bro sis, tetap dipisahinlah sampah dapur dan sampah kain kan berbeda jenisnya. ((susah amat bu mikirinnnya. Iyee kebisaan mikir panjang))

Belum lagi sampah-sampah berukuran besar, misal kasur bekas, sofa bekas, lemari bekas, peralatan elektronik (kulkas, tv, rice cooker) rusak, sepeda rusak, ember bocor, atau barang-barang B3 dari rumah tangga seperti botol-botol bekas baygon, pembersih lantai, baterai bekas, dll.

Belum ada yang benar-benar menyediakan jasa untuk mengangkut sampah-sampah tersebut. Sehingga efek negatifnya dibuang sembarangan yang penting tidak berada di rumah/sekitar rumah saya lagi. Coba main-main ke sungai, ada loh sampah kasur di sungai.

Setiap manusia harus bertanggungjawab atas setiap limbah yang dihasilkannya. Setiap hari manusia rutin menghasilkan limbah. Limbah dari aktivitas biologis manusia seperti tinja, limbah dari aktivitas sehari seperti sampah makanan, dari aktivitas rekreasi, bekerja, belajar, dan banyak aktivitas lainnya. Kebanyakan berpikirnya tanggung jawab selesai setelah limbah tersebut keluar dari rumahnya. Entah dibuang kemana, entah tercecer dimana, entah mengganggu siapa, masa bodo.

Lingkungan ini milik bersama. Menjaga lingkungan harus menjadi cita-cita bersama. Menjaga lingkungan butuh kerjasama. Menuntut kondisi yang lebih baik itu perlu, namun yang paling penting adalah memulai tindakan.

bersambung
next week, review pengalaman jalan-jalan ke TPA-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s