Jadwal kuliah dan tugas yang tidak terlalu padat membuat saya mempunyai waktu luang uang. Tentu kebanyakan waktu tersebut saya habiskan di kosan. Setiap ditanya teman atau orang tua lagi dimana, pasti kebanyakan jawabnya lagi di kosan. Lagian kan inspirasi bisa didapetin dimana aja. Bagi saya, kamar adalah tempat ternyaman untuk mencari inspirasi.

Akhir-akhir ini, bukannya malah mikirin ugb tesis, tapi malah sibuk sendiri berkontemplasi. Saya tidak tau apakah ini layak disebut hobi atau bukan, tapi jujur saya suka melakukan observasi dan analisis. Entah itu benda, orang, tempat, dan lainnya, saya suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk hal demikian. Apalagi di zaman sekarang, internet adalah tools paling cepat untuk mendapatkan informasi dan social media adalah wadah termudah untuk mengobservasi. Kayak tagline sebuah perusahan “the world in your hand”, cukup dengan duduk manis bisa dapat dapat informasi apapun.

Jujur, saya bukan orang yang suka mengutarakan pendapat secara langsung walaupun ada banyak pertanyaan dan pemikiran di benak saya. Alasan pertama karena pemikiran itu belum muncul saat informasi itu ada, tapi beberapa waktu setelahnya, entah sejam, sehari, seminggu, atau setahun kemudian. Alasan kedua, saya tidak terlatih untuk berargumen yang baik.

Saya tau udah telat banget kalau mau mengutarakan pendapat. Udah basi kalau mau dibahas lagi. Kadang saya mikir, useless banget saya masih kepikiran hal tersebut dan sesekali masih mencari dan terus mencari informasi tersebut lebih dalam demi mendapatkan informasi dan pendapat yang lebih kuat dan terpercaya.

Tapi saya selalu berusaha berpikiran positif. Kayak nasi dingin, walaupun sebagian orang udah malas makannya, tapi masih ada sebagian lagi yang membutuhkannya. Ya memang udah ga guna lagi kalau dibahas dengan orang yang sama, tapi masih bisakan dibahas dengan orang yang berbeda. Manataukan situasi perdebatan seperti itu bisa muncul lagi atau tiba-tiba ada orang ngasih informasi X, Y, Z. Nah kita lebih terlindung, ga gampang percaya karena udah tau kebenaran info tersebut.

Untuk alasan kedua sebenarnya ada cerita panjang dibaliknya. Pendapat saya, berargumen yang baik itu sulit. Sebaik-baik apapun cara penyampaiannya menurut kita, ga bisa menjamin yang kita maksud tersebut 100% sampai ke pendengar, kecuali atas kuasa Allah.

Menjadi orang yang terbuka terhadap kritikan dan pendapat berbeda memang gampang diucapin, tapi realisasinya sulit. Berlapang dada, bersabar, dan menerima kritikan itu ga mudah. Ada keragu-raguan mengenai apa yang akan kita sampaikan ini layak atau tidak. Sudah benar atau belum. Jadi kalau dihadapkan situasi saat orang menyampaikan A, B, atau sesuatu yang baru, belum pernah didengar, saya lebih memilih untuk mendengarkannya saja dulu tanpa argumen, setelahnya diriset lagi. Kalau kata orang, memang saya orang yang kayak gini ga asik, lempem banget kalo diajak ngobrol.

Tapi sebenarnya dari lubuk hati terdalam, nungguin pertanyaan ini akan muncul setelah orangnya cerita panjang lebar, “Menurut kamu gimana ka tentang bla, bla, bla?”. Walaupun ini kayak formal banget, tapi ini kayak suatu tanda izin kalau saya boleh mengutarakan pendapat yang walaupun berbeda. Akan lebih nyaman juga berbicara karena pertanyaannya lebih spesifik.

Ini hanya pendapat ya. Menurut pengamatan saya, ada 2 tipe orang ketika berbicara. Pertama, memang ada orang berbicara karena memang suka berbicara. Kedua, ada orang yang berbicara karena ingin mendapatkan informasi (ingin mendegar cerita dari orang lain juga). Jadi kalau ada yang suka bertanya dulu sebelum dia berbicara (cerita), dia adalah tipe yang kedua. Tapi kalau ada yang berbicara sebelum ada yang bertanya ke dia mengenai hal tersebut, berarti dia tipe yang pertama.

Ah jadi kelamaan intronya hahaha. Sebenarnya yang ingin saya ceritakan disini adalah mengenai

Hak dan kewajiban sebagai muslim

Sebagai manusia, tentu ada kewajiban yang melekat didirinya baik yang dia sendiri menginginkannya maupun yang tidak diinginkan. Baik yang diketahui maupun tidak diketahui. Semakin saya belajar banyak sebenarnya tanpa saya sadari saya makin takut memegang tanggung jawab. Kadang-kadang ada ketakutan kalau memiliki ilmu, terutama ilmu agama. Saya tau, itu pemikiran yang salah.

Makin berilmu sebenarnya derajat kita makin meningkat. Tapi dengan ilmu juga, saya punya ‘kewajiban’ juga untuk melakukan suatu hal dan tidak melakukan suatu hal lainnya. Makin tau banyak, makin punya banyak kewajiban. Dan saya tidak bisa mengabaikannya. Kalau belum tau, mungkin akan lebih gampang mengabaikannya, seperti orang-orang yang katanya senang hidup bebas. Tapi apa iya saya tega menjerumuskan diri sendiri dalam kebodohan?

Awal menjalankan kewajiban memang berat. Iya, lama-lama juga bisa kebiasa. Tapi godaan untuk selalu melanggar kewajiban tersebut selalu ada. Salah satu yang bisa menguatkan adalah harapan kalau kita akan mendapatkan sesuatu yang baik dibaliknya.

Dalam konteks agama, sebagai muslim kita diwajibkan untuk beribadah kepada Allah setiap hari. Kalau bisa, setiap saat. Ada banyak bentuk ibadah, ada yang wajib ada yang sunnah. Kalau mau cari tau banyak banget deh. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur, ada banyak amalan yang bisa dilakukan dan semata-mata tujuannya untuk beribadah kepada Allah.

Pernah kepikiran ga, kenapa ada orang yang taat banget dalam agama dan ada juga yang ga taat. Penasaran apasih motivasi mereka kenapa bisa istiqomah. Semua muslim mungkin tau, kalau orang yang beriman kepada Allah akan mendapatkan surga, kecuali yang melakukan hal syirik (menyekutukan Allah). Semua orang juga tau pepatah kalau usaha tidak akan mengkhianati hasil. Begitu pula dengan cara mendapatkan surganya berbeda-beda. Tingkatan surga juga berbeda-berbeda.

Semua amalan yang kita kerjakan di dunia ditimbang. Ada yang masuk dulu ke neraka untuk menghapus dosa-dosanya, lalu kemudian baru masuk surga. Ada juga yang bisa langsung masuk surga tanpa ke neraka dulu. Ga kebayang dan ga mau ngebayangin betapa pedih disiksa di neraka. Kalau orang rasional jawabannya ya ga mau dan ga akan mau lah masuk neraka.

Walaupun udah ada surga jaminannya, tapi sebagai manusia ada aja keinginan mengejar dunia. Mati-matian belajar, mati-matian mencari duit, mati-matian memenuhi kebutuhan dunia guna mencari kebahagiaan katanya.

Mungkin ada yang melihat orang yang taat ibadahnya tapi biasa aja kehidupan duniawinya. Mungkin ada yang melihat orang yang agamanya biasa aja, tapi sukses kehidupan duniawinya. Tapi kalau kita mau mencari tau lebih, ada orang yang taat ibadah tapi urusan duniawi lancar jaya (hanya saja orang seperti ini jarang terekspos). Dan saya yakin, tipe orang seperti ini lebih banyak dari tipe pertama yang saya sebutkan.

Salah satu hal yang memotivasi untuk istiqamah adalah janji Allah terhadap hambanya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” – (Al-baqarah(2):186)

Siapa yang ga mau doanya dikabulkan Allah? Mendapat surga dan juga segala urusan duniawinya dimudahkan Allah. Di ayat tersebut, disebutkan kalau menginginkan sesuatu, memohonlah kepada Allah dan berkewajiban untuk memenuhi segala perintah Allah. Segala perintah.. melaksanakan semua ketetapan Allah tanpa terkecuali apapun itu persoalannya. Supaya bisa tau apa aja ketetapan Allah, caranya dengan giat mencari ilmu agama. Oke ini memang tidak mudah, tapi tidak mungkin tidak bisa dilakukan.

Kalau meminta bantuan saja ke sesama manusia, kita sadar diri untuk bersikap baik dan ramah tamah terlebih dahulu. Apalagi ini memohonnya ke Allah, harus lebih giat lagi mencari dan belajar ilmu agama serta mengamalkannya.

Orang yang ibadahnya biasa aja, kehidupan dunia yang diinginkannya lancar (ya walaupun sebenarnya ini bisa jadi cobaan karena Allah membiarkannya demikian). Apalagi kalau menjadi orang yang bertaqwa, menjadi hamba yang dekat, tentu allah lebih menyayangi kita. Mungkin dengan ditundanya keinginan duniawi yang kita mohonkan, menjadi pemicu untuk selalu istiqamah beribadah. Selalu yakin suatu hari nanti doa kita akan dikabulkan. Malah untungnya bisa double, selain dimudahkan urusan duniawinya, ketaqwaan kita juga semakin meningkat.

Saya berpikirnya demikian. Hal inilah yang kini memotivasi saya untuk tidak lagi takut belajar agama. Tidak takut menjalankan kewajiban agama yang melekat pada diri.

(continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s