Metode apa dalam menasehati/komunikasi yang optimal?

No comments

Ada yang lebih mudah memahami ketika disampaikan secara lisan. Ada pula yang penyampaiannya lebih mudah dipahami lewat tulisan. Ada pula orang yang tidak mudah memahami lewat apapun disampaikan. Bukan, bukan pesannya yang tidak baik atau terlalu sulit. Bukannya juga medianya yang salah. Misskomuninasi bisa saja terjadi karena hal sepele, frekuensinya yang tidak tepat atau pesannya yang ternyata tidak terkirim karena kehabisan pulsa. #maksalucu

Menurut yang saya kutip dari sini, proses komunikasi adalah proses penyampaian gagasan/pikiran oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Agar komunikasi berjalan dengan lancar maka Wilbur Schramm dalam karyanya “communication research in the United States” menyatakan bahwa: “Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection experience and meanings) yang pernah diperoleh oleh komunikan”. Menurut Schramm, bidang pengalaman (field of experience) merupakan faktor yang penting dalam komunikasi. Jika pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, maka komunikasi akan berlangsung lancar.

Menyampaikan perihal agama itu sensitif banget buat beberapa orang. Dan mengkomunikasikannya atau gampangnya disebut nasehat menasehati itu perlu ilmu. Jangankan menasehati sesorang soal beragama, soal kebiasaan sehari-hari yang misalnya buang sampah pada tempatnya masih banyak orang yang angkuh. “Siapa sih lo, saudara juga bukan, kenal juga engga, sok-sokan ingetin orang, ini kan masalah sepele buang sampah doang”. Iya cuma nasehatin masalah sepele aja bisa diributin, apalagi nasehatin masalah besar tanpa ilmu.

Komunikasi itu gampang-gampang susah. Komunikasi yang kita anggap bentuk care terhadap seseorang, bisa diartikan pemaksaan. Jangankan nasehat ke sesama muslim, teman, atau sahabat, nasehat orangtua ke anaknya saja bisa dianggap si anak sebagai bentuk pemaksaan kehendak di jaman sekarang ini. Apalagi yang ujug-ujung orang luar, bisa dianggap sok-sokan, sok tau, dan sombong.

Eitss, ngomong-ngomong soal sombong mari kita telusuri apa itu definisi sombong. Menurut kkbi, menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah. Definisi lain yaitu berdasarkan hadist, “… adapun kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. See siapa yang sombong?

Manusia itu rumit dan bermacam-macam. Ada yang makin gede, makin tua, makin susah nerima ilmu, makin susah nerima nasehat. Ada juga yang gampang menerima nasihat. Balik lagi ke pernyataan “Jika pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, maka komunikasi akan berlangsung lancar.” Tidak lancar tersampaikannya pesan, bisa jadi karena pengalaman yang beda, frekuensi beda, lingkungan beda. Bisa jadi ga cukup 1, 2, atau beberapa kali ngomong. Bisa jadi ga cukup pesan sampai dalam hitungan hari. Mungkin bisa memakan waktu yang panjang agar se-frekuensi. Terus solusinya gimana? In my opinion, stimulus yang terbaik adalah berdoa, berusaha, dan bersabar jika si komunikator ingin mendapatkan efek/feed back yang cepat.

Memang ya waktu-waktu emas buat belajar tu yang selagi masih anak-anak. Masih mudah diajari. Rasa ingin tahunya masih tinggi. Keinginan untuk nerima ilmu itu sendiri masih tinggi. Kayak ibaratnya tanam pohon. Makin bertambah umur pohon akarnya makin dalam dan kokoh. Makin bertambah umur ajaran-ajaran yang terdahulu makin mengakar dan menyatu dalam kepribadian kita. Terus apa yang terjadi, setelah bertahun-tahun lamanya baru ada yang bilang kalau pemahaman kita terhadap suatu hal ternyata kurang tepat selama ini? Ada yang menerima namun kebanyakan menolak keras diawal. Sudah terlanjur katanya. Sudah terlanjur mengakar dalam. Terlanjur sulit buat mindahin pohon tersebut. Bisa jadi pemahaman baru tersebut sulit diterima walaupun lebih benar. Makin tua pohon tersebut, makin sulit buat mindahinnya. Butuh banyak waktu, tenaga, dan uang lebih untuk mindahinnya. Coba mindahin pohonnya saat masih belum besar, akan lebih mudah dan cepat bukan?

Ah, abaikan saja perumpamaan di atas jika dirasa terlalu klise. Lanjut.

Dalam nasehat kepada kebenaran berarti mengatakan bahwa hal yang dia lakukan itu salah. Tidak semua orang mau dan mudah mengakui kesalahan. Cara termudah agar bisa menghindar dari mengaku salah adalah dengan menyalahkan orang lain. Anak menyalahkan orangtua yang tidak benar mendidiknya. Teman menyalahkan temannya yang tidak mengingatkannya. Pasangan menyalahkan pasangannya karena tidak membimbingnya. Menyalahkan orang, situasi, benda lain lumrah dilakukan. Mau dikasih tau ataupun ga dikasih tau yang benar, tetap saja ada kemungkinan tindakan menyalahkan yang lainnya. Ya, ini sekedar curhat doang sih ada fenomena saling salah menyalahkan. Semua sudah tau bahwa idealnya sih masing-masing saling intropeksi diri, ga ada guna saling menyalahkan. Dan yang sering terjadi kalau emosi, ya penyakit lupa.

Pesan memang disampaikan lewat mulut, tapi tidak ada yang tau jika pesan itu hanya mati di telinga si pendengar saja atau tertanam di hati pendengar atau malah terbayang-bayang di pikiran pendengar. Ada yang jadi titik cahaya di hati/pikiran pendengar atau malah menjadi titik hitam di hati/pikiran pendengar. Terutama perempuan, ya tidak bisa dipungkiri juga kebanyakan perempuan lebih cepat hatinya menerima pesan dibanding pikirannya.

Akhir-akhir ini saya berpikir mengenai 3 teori belajar yang pernah disampaikan sedari di bangku SD mungkin bisa dicoba juga dalam hal komunikasi. Berdasarkan yang dikutip dari sini, “Terdapat 3 tipe dalam gaya belajar yaitu Visual, Auditori dan Kinestetik. Gaya belajar visual adalah di mana kamu akan secara optimal menyerap informasi yang dibaca atau dilihat. Gaya belajar visual berfokus pada penglihatan. Sedangkan gaya belajar auditori, informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya akan diserap secara optimal. Tipe auditori biasanya paling peka dan hafal dari setiap ucapan yang pernah didengar, bukan apa yang dilihat. Lalu jika kamu lebih ke gaya belajar kinestetik, maka kamu akan sangat senang dan cepat mengerti bila informasi yang harus diserap terlebih dahulu “dicontohkan” atau ia membayangkan orang lain melakukan hal yang akan dipelajarinya.”

Nah, mungkin itu penyebab kenapa saya sendiri tidak nyaman jika berada dalam komunikasi serius yang terlalu lama. Bukannya saya tidak mau mendengar, hanya saja kecerdasan auditori saya tidak sebaik kecerdasan visual. Saya kurang bisa menyerap dengan baik sesuatu yang disampaikan secara verbal. Entah itu orang menyampaikannya dalam 1,2, atau berjam-jam lamanya,  jika saya disuruh mengulangi, paling-paling saya hanya bisa menyampaikannya dalam 2 atau 3 kalimat pendek. Pesan yang disampaikan malah bisa menjadi miskom karena tidak terserap secara optimal. Pesan yang isinya baik, terkadang menjadi titik hitam karena hati yang duluan menerimanya bukan pikiran.

Tahu dan paham itu berbeda. Tahu adalah kenal akan sesuatu, tapi kalau paham adalah mengerti/mengetahui benar akan sesuatu. Tidak cukup hanya sekedar tahu, tapi harus sampai ke tingkat paham agar saya punya ‘alasan kuat’ untuk melakukan aksi. Saya lebih cepat paham sebuah pesan jika penyampaiannya dalam bentuk yang bisa dibaca dan dilihat. Contoh nih ketika orang tua saya berkata lakukan A, jangan lakukan B, jauhi C karena tidak baik, dan sebagainya. Sejujurnya, semua nasihat tersebut sebagian  besar menguap hanya sampai telinga. Tapi… kita jangan malas belajar, jangan berpikiran sempit. Mungkin memang sedikit terlambat, tapi ketika pesan tersebut terealisasi dalam bentuk aksi nyata dan tersampaikan melalui penglihatan, saya tidak segan-segan untuk melakukan aksi juga.

Sebagai tipe yang visual banget, saya lebih senang nasehat menasehati dalam bentuk visual juga. Visual ga cuma dari buku ya, tapi dari melihat si komunikan melakukan, bagaimana orang-orang lain melakukan dan apa manfaatnya. Tapi ga menutup kemungkinan juga untuk mempejari metode komunikasi sesuai dengan komunikan yang dihadapi. Kalau kamu lebih senang nasehat menasehati dalam bentuk apa?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s