Kerja dulu atau langsung lanjut kuliah S2?

No comments

Mungkin sebagian ada yang sama bingungnya dengan saya ketika berada di penghujung kuliah. Ingin kuliah, tapi mau lanjut kuliah juga. Kuliah S2 tapi mikirnya bagusan ada pengalaman kerja dulu 1 atau 2 tahun ga sih? Baiknya gimana? Jawabannya terserah kalian. Kalian yang lebih tau mana yang terbaik. Tiap orang pertimbangannya beda-beda. Pilihan ga terbatas, mau lanjut S2 sambil kerja juga bisa. Ga kerja dan ga lanjut S2 juga ada sisi positifnya pilihan tersebut.

Menurut kbbi, keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran; bercita-cita adalah berkeinginan sungguh-sungguh; mencita-citakan adalah menginginkan dengan sungguh-sungguh. Saat usia 20 tahun saya memutuskan untuk tidak mempunyai cita-cita mengenai kerjaan/profesi/karir. Dimana semua mahasiswa tingkat akhir sudah merencanakan nanti akan kerja apa, kerja dimana, kerja di bidang apa, ingin posisi/karir seperti apa, gaji seberapa besar, kerja yang benar-benar aplikasiin ilmu kuliah atau engga, malahan saya semakin abu-abu. Pikiran saya kerja ya kerja, nothing special. Kerja ya buat dapetin penghasilan, kerja ya sebuah tanggung jawab yang ada kompensasinya.

Ga punya cita-cita dalam karir bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Saya punya prinsip, salah tiganya: tidak menyianyiakan peluang, menyelesaikan dengan sungguh-sungguh apa yang sudah dipilih, dan melakukan apa yang membuat saya penasaran. Juga nasihat kepada diri sendiri yaitu: Jangan malas mikir, jangan malas belajar.

Jadi orang gede itu ga enak. Ingin jadi anak-anak aja terus selamanya, kalau bisa. Ingin punya banyak hal, tapi ga punya banyak hal. Ingin melakukan banyak hal, tapi ga bisa melakukan banyak hal. Ingin cerita banyak hal, tapi ga punya banyak hal yang ingin diceritakan.

Memilih bukan menjadi hal yang mudah dan menyenangkan lagi ketika sudah ‘dianggap gede’. Di tengah keterbatasan, harus pandai-pandai mikir dan pertimbangin banyak hal ketika memilih kerja atau S2.

  1. Gender

Emansipasi? Perempuan dan laki-laki sama saja? Haah, yakin? Menurut saya, prioritas gender dalam pekerjaan tertentu pasti ada walaupun tidak dituliskan. Cari kerja bagi perempuan itu ga gampang. Kerjanya itu sendiri juga ga gampang. Prioritas gender ada baiknya juga. Perempuan dan laki-laki punya posisi dan kapasitasnya masing-masing, pasti banyak perbedaannya. Apa dan bagaimana pekerjaan tersebut harus menyesuaikan dengan status sebagai perempuan.

  1. Umur

Kata sebagian orang tua, anak laki-laki menikah umur 25-30angapapa. Kalau anak perempuan yang melebihi ‘usia wajar menikah’ ini yang masalah. Susah nanti cari jodohnya. Kalau ibarat bunga, tentu milihnya bunga yang baru mekar. Kalau kerjaan/karirnya/gaji terlalu gede, laki-laki pada minder, dan lain-lainnya. Umur, kerja/karir, dan menikah, selalu saja orang tua sering menghubung-hubungkan ketiganya. Entah benar atau engga pernyataan tersebut. Dibalik ‘semua pasti udah ada yang ngatur, udah ada takdirnya masing-masing’, ada baiknya direncanakan dan dipersiapkan bekalnya. Belajar sebanyak-banyaknya selagi muda.

  1. Agama

Kalau udah menyangkut agama, perintah Allah, ga bisa dibantah lagi. Tidak sesuai yang tidak sesuai. Tidak boleh ya tidak boleh. Ga bisa ditambah atau dikurangi. Kerjaan yang sesuai syariat agama, diridhoi allah dan orang tua ga gampang. Ada kerjaan yang sesuai syariat, tapi ga disenangi. Ada kerjaan yang disenangi, tapi tidak sesuai syariat. Ada yang ingin kuliah diluar negeri, tapi sekarang belum memenuhi syariat agama. Sepertinya memang kuncinya bersabarlah dan terus berusaha menemukan yang pas.

  1. Lingkungan

Lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan pertemanan, lingkungan tinggal, dan banyak lingkungan lainnya. Kadang kalau kerja/memilih kuliah ada saatnya kita terpaksa meninggalkan lingkungan yang lama. Misalnya: kalau kerja khawatir jauh dari orang tua, kerja di pedalaman, kurang fasilitas kotanya, lingkungan kerjanya tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan sebagainya. Memilih kuliah pun demikian. Bagaimana lingkungan kampus yang dituju, bagaimana lingkungan tinggalnya nanti, bagaimana lingkungan belajarnya, dll. Perlu riset dahulu mana yang pas dengan kita.

  1. Tanggung jawab

Perhatikan posisi dan tanggung jawab yang kalian miliki sekarang. Untuk yang perekonomian keluarganya perlu dukungan dari anak, mungkin kerja lebih menjadi prioritas. Punya tanggungjawab buat bantu orang tua atau saudaranya. Buat yang belum menikah, belum ada tanggungjawab juga cari nafkah. Nah buat yang belum punya tanggungjawab lebih selain tanggungjawab terhadap diri sendiri, kita beruntung masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk melakukan hal lain sebelum tiba waktunya terjun ke dunia kerja.

Kalau saya sendiri, tidak mau strict terjebak di antara dua pilihan itu, kerja atau langsung kuliah lagi. Yang mana peluang bagus, itu yang diambil. Tidak dapat kerja juga tidak masalah, kuliah lagi atau mencoba hal-hal lain juga menarik. Dengan status ‘sebagai anak perempuan masih dalam tanggungan orangtua’, punya banyak keuntungan. Ga ada tanggungjawab untuk cepat-cepat masuk dunia kerja dan ga ada tanggungjawab untuk mencari nafkah. Bisa hidup nyaman dengan melakukan apa yang disenangi dan belajar sebanyak-banyaknya apa yang ingin dipelajari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s