Dilema Menerapkan Hidup Minimalis

No comments

Akhir-akhir ini saya mulai kesal sendiri dengan kamar yang terasa sempit. Seperti tipikal kamar kost lainnya, hanya diberikan ruang dengan ukuran 3×3 m, itupun sudah termasuk wc di dalam. Beberapa kost lainnya bahkan menyediakan ruangan yang lebih kecil lagi. Jujur ga kebayang bagaimana mengatur posisi barangnya, apalagi dengan jumlah barang yang saya miliki sekarang, bakalan ga muat.

Sudah lebih 4 tahun saya nge-kost, wajar aja barang jadi semakin banyak. Tiap tahun pasti ada aja barang-barang yang dibeli. Tiap pulang ke rumah, pasti ada aja entah itu sepatu, baju, atau tas baru yang dibawa. Beruntungnya dulu (kamar kost yang pertama) tidak seperti kost-kost pada umumnya, lebih mirip ke paviliun. Karena ruangan yang lebih besar, ga kerasa banget ketika nambah barang. Saat pindahan, barulah saya menyadari bahwa saya memiliki banyak barang-barang lama yang tidak terpakai.

Saya sering menyimpan ‘sampah’. Mungkin itu kalimat yang tepat. Saya memiliki banyak peralatan elektronik yang rusak, headset, kabel, baterai, jam weker yang rusak, hingga laptop yang rusak. Belum lagi kertas-kertas catatan yang saya simpan sejak tahun pertama kuliah. Sepertinya kertas tersebut pun tidak akan saya baca lagi karena semua materi telah tersimpan abadi di gdrive. Satu kardus besar penuh terisi oleh kertas-kertas TA telah merenggut space di ruangan saya. Saya sadar, barang-barang tersebut sudah selayaknya dibuang.

Tidak hanya sampah, barang-barang yang tidak terpakai pun banyak. Sudah jarang dipakasi. Sepatu lama, baju lama, kerudung lama, dll. Pernah saya mengumpulkan baju dan kerudung lama hingga mendapati satu kantong laundry besar sekitar 6kg lebih. Pakaian itu pun sebenarnya telah lama tidak saya gunakan lagi. Setelah saya pikir-pikir, percuma saya menyimpannya. Lama-kelamaan pakaian tersebut akan semakin lusuh dengan sendirinya.

Pernah ga sih kalian memiliki suatu rasa ikatan spesial tertentu terhadap barang? Mungkin ya ada, dan sebagian lagi ada yang tidak. Bagi saya, semua barang yang pernah saya miliki itu spesial. Apalagi dengan barang yang sering saya gunakan, pakaian, tas, dan sepatu.

“Saya mau ruangan yang lebih lega”, pikir saya hampir setiap hari. Hanya dua solusinya, saya pindah ke kamar kost yang lebih besar atau saya menerapkan hidup minimalis dengan kata lain membuang barang-barang tersebut. Pindah kost tentu bukan pilihan yang baik. Udah kebayang bagaimana ribetnya pindah-pindahin barang.

Hal yang pertama saya lakukan untuk belajar menjadi hidup minimalis adalah browsing. Banyak saran dan penjelasan yang dapat mudah didapatkan, salah satunya dari hipwee. Untuk melakukannya di luar negeri mungkin gampang, tapi menurut saya beda ceritanya dengan di Indonesia. Beda jauh lagi dengan di jepang. Jepang dengan teknologinya dan rakyatnya yang partisipatif memiliki pengelolaan sampah yang sangat baik.

Oke, saya sudah mau buang barang-barang tersebut. Pertanyaan selanjutnya, kemana saya harus membuangnya? Sungguh dilema! Apalagi sebagai anak lingkungan! Haha!

‘Buang aja ke tong sampah depan rumah’. Hmm, jujur saya tidak rela membuangnya di tong sampah. Seperti saya bilang sebelumnya, setiap barang yang saya pernah miliki itu spesial dan saya pun ingin membuangnya dengan cara yang benar. Tidak tega saya mencampurkannya dengan sampah-sampah domestik rumah tangga lainnya. Rasanya saya lebih ikhlas kalo barang tersebut bisa didaur ulang.

Ehm, apalagi sebagai orang yang pernah belajar tentang sistem pengelolaan persampahan. Tau betul bahwa sampah yang tercampur itu tidak benar. Ada banyak sampah yang bisa didaur ulang jika pemilahannya benar. Walaupun udah milah, tapi (kadang) petugasnya tetap mencampurkan sampah.

Tidak seperti di luar negeri yang telah disediakan tempat-tempat khusus pemilahan sampah antara sampah kertas, pakaian, B3, dll, rasanya masih sulit mencari tempat daur ulang di Indonesia. Bahkan mungkin tidak semua kota yang ada tempat daur ulang. Ada, namun tidak banyak. Mungkin saya saja yang belum banyak menemukannya.

Terkecuali kertas, kardus, dan sejenisnya, sudah banyak pengepulnya. Beberapa jam yang lalu saya baru terpikirkan untuk mencari tempat jual beli kertas bekas di Bandung melalui mbah gugel dengan keyword tersebut. Ah, ternyata ada yang berada di dekat kost saya, daerah Cihampelas! Yeah!

Mungkin beberapa bulan, tahun lagi akan lebih banyak tempat dan jenis barang didaur ulang. Salah satunya bisa jadi kepunyaan teman saya, atau bahkan saya (?). Mimpi boleh kali ya walaupun belum ada aksi nyata sekarang. Walaupun sekarang masih terlihat ribet, saya yakin bisnis pengelolaan sampah bakal semakin menjadi bisnis yang menarik di masa depan. Manusia makin konsumtif, makin banyak nyampah, makin butuh orang-orang yang mau mengelola sampah.

Ngomong-ngomong soal beli-beli barang, pasti ada ya keinginan untuk mengganti barang entah karena udah lusuh, sobek, model lama. Apalagi dengan semakin mudahnya membeli hanya melalui handphone, tinggal klik-klik udah deh tinggal duduk manis. Besoknya barang udah sampai. Kadang sering juga saat bazar-bazar kasih promo, orang-orang sales yang nawarin produk dengan antusias, diskonan dan lain-lain, bikin tergiur untuk membelinya, walaupun sebenarnya ga butuh-butuh amat.

Benar ya, kalau nyimpan barang-barang banyak bikin capek. Capek bersihinnya, capek menjaganya, capek menatanya.

Sekarang, setiap mau beli sesuatu mesti mikir keras, perlu ga ya? masih ada ga ya barang lama? masih ada ruang ga ya di kamar? Kalau mau beli barang baru: barang lama mesti dikemanain ya?

Pusing ah pokoknya.

Gausah ngayal-ngayal sendiri orang bakal bilang: ih bajunya kok ga ganti-ganti ya, sepatunya kok itu-itu terus ya, tas nya udah lusuh, pelit banget sih ga mau ngeluarin uang untuk ganti barangnya dengan yang lebih baik. Gausah ngayal deh, toh orang sekarang makin ga peduli sama orang lain. Intinya, biarpun barangnya sedikit, yang penting sering digunakan. Jadi setiap barang yang dibeli berkah. Bersabarlah dan bersyukurlah atas segala sesuatu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s