Kompilasi pikiran

No comments

Saya menyesali semua yang telah saya pilih dan saya lakukan sebelumnya. Itu yang akan saya katakan apabila saya tidak memahami makna bersyukur. Tidak mengenal dengan yang namanya takdir.

Seringkali manusia dihadapkan dengan pilihan yang terbatas, lingkungan yang terbatas, sumberdaya yang terbatas, yang dia sendiri sebenarnya tidak ingin di situasi tersebut. Andaikan semua tanpa batas, dimanakah tantangannya? Andaikan semua tanpa batas, mungkinkah anda bisa bermimpi?

Seringkali melihat orang lain dapat membuat menjadi lupa dengan diri sendiri. Yang dilihat kesuksesan kemewahan dan kenikmatan yang dimiliki mereka. Akibatnya yang ada dimiliki sekarang menjadi tak bernilai, menjadi terlupakan. Yang ada menyakiti pikiran dan hati sendiri.

Sibuk membuat rencana-rencana yang besar, cita-cita yang besar, memang hal baik. Tapi akan menjadi semakin jauh diraih jika hal-hal kecil yang didepan mata saja tak mampu diselesaikan dengan bijak.

Belajar merupakan kegiatan untuk mendapatkan ilmu, menambah pengetahuan, mencari kebenaran. Namun apakah dengan belajar bisa bermanfaat ataukah malah menyiakan waktu jika ilmu dan kebenaran tersebut sebenarnya tertolak oleh hati yang lelah dengan belajar.

Tidak semua ilmu dan kebenaran dapat dipahami dengan mudah. Ada yang butuh waktu lama, ada pula yang butuh waktu singkat untuk memahaminya. Ada yang bisa bersabar, ada pula yang tidak. Tapi sayangnya seringkali keangkuhan membuat diri merasa sudah cukup dan tidak mau memahami.

Jikalau ilmu dipilih-pilih dan diurutkan dari yang terpenting, ilmu manakah yang paling utama dicari, ilmu manakah yang paling penting diatas segala ilmu lainnya? Adakah ilmu tersebut mudah dicari dan didapatkan? Bisakah ilmu tersebut membuat saya menjadi orang yang paling kaya dan orang yang paling berbahagia?

Kadang tanpa sadar diri sendiri yang suka membuat batas. Batas kesabaran, batas kemampuan, batas pertemanan, batas usaha, batas ilmu. Padahal ada yang maha tahu dan maha berhak membuat batas tersebut.

Katanya hidup harus penuh dengan toleransi. Toleransi dengan diri sendiri, toleransi dengan orang lain. Ya, toleransi bisa membuat kedamaian, menghindari permusuhan, aman damai. Namun, tidak semua hal dapat ditoleransi. Karena toleransi berbeda dengan kesabaran. Toleransi memiliki batas.

Hidup penuh rutinitas itu sesungguhnya membosankan. Rutin setiap hari melakukan hal yang sama. Namun jikalau kau tahan dengan hal rutin tersebut, itulah yang meningkatkan ilmu kesabaranmu, itulah yang akan membawamu ke gerbang kebahagiaan.

Kapan saya bisa berhasil? Kapan saya bisa meraih yang saya inginkan? Kadang pertanyaan itu muncul dan menghilang tiba-tiba. Namun percuma saja kalau sebenarnya tidak tau apa yang benar-benar ingin diraih. Ternyata itu adalah keinginan fana yang muncul dari rasa iri melihat orang lain.

Berbagi. Ada yang setiap hari berbagi. Berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi kebahagiaan. Kadang berbagi yang dimaksud bisa berbeda dengan yang diterima, membuat salah paham. Bebahaya lagi bila kesenangan berbagi membuat lupa batas privasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s